Tentang Aku dan Bipolar Affective Disorder (Part I)

Sunday, February 27, 2022

 



Saat itu sekitar pukul 2 malam lebih, aku memeluk lutut terduduk sendirian di karpet kosanku. Aku lelah menangis. Tepatnya aku berhenti menangis dan hanya duduk termenung mematung. 

Aku ingin tidur.

Aku ingin menutup mataku, untuk selamanyapun tak apa.

Fikirku saat itu.

Aku meraih box obatku dan mengacak-ngacak isinya, mencari satu obat tidur yang biasanya kugunakan ketika aku ingin tidur. Dan ya dapat. Aku segera menenggak sebutir obat tidur, menunggu reaksinya, tapi sayangnya aku tidak sabar menunggu kantuk lalu kembali meraih 2 obat tidur, kutenggak kembali. kembali menunggu reaksi obatnya tapi sekian menit dari itu dengan impulsif dan tanpa fikir panjang aku kembali meraih 2 tablet obat tidur dan menenggaknya.

Total 5 obat tidur tapi aku sama sekali tidak bisa terpejam sampai pagi datang.

baru sekitar pukul 6 pagi lebih kantuk itu mulai datang, aku tertidur tanpa sadar sekitar satu jam dan terbangun dengan kaget karena nyaris jam 7 lebih tapi aku belum mandi sama sekali untuk bekerja. Aku mengabaikan semua rasa sakit di badan, aku segera bersiap.

Rasa kantuk sudah hilang sejak pertama kali aku membuka mata, ntah kemana. Bahkan sampai siang, ketika aku ingin merebahkan badanku sebentar dan tidur, kantuk itu tak juga datang. Aku stress dan tertekan. Ini sudah lebih dari 14 hari aku hanya tidur 1-2 jam setiap harinya. Rasanya sudah mau gila.

Menjelang sore dadaku sakit seperti puluhan ton baja dijatuhkan begitu saja ke dadaku. ada perih dan mual yang kurasakan. Keringat dingin mulai datang membanjiri tubuhku. Aku mengeluhkan kondisiku pada teman kantor dan dia memberiku satu tablet obat maag yang segera kuminum. Berharap gejala sakit di dadaku berkurang. Tapi ternyata tidak. Sampai jam pulang kerja dadaku rasanya masih saja sesak. Aku mengendarai motorku dengan susah payah dari kantor ke kosan, 20 km jauhnya. Sampai di kosan aku roboh begitu saja, Dadaku bergemuruh. Aku mulai kesulitan bernafas.

Ketika adzan magrib tiba aku tak kuat lagi menahan sesaknya. Akhirnya aku menelpon teman kosanku, minta diantar ke UGD. Saat itu aku masih bisa terlihat okay dan cengengesan, tapi begitu tiba di RS, dipasangkan oksigen dan disuntikkan obat pada infusku, aku tak bisa lagi berpura-pura, dadaku semakin sakit. Aku memegangi dadaku seolah takut jantungku loncat begitu saja bila tidak kupegangi.

Aku overdosis obat tidur. Ditambah isi perutku kosong melompong. Tak lagi kuisi sejak kemarin atau ntah kemarinnya. Aku selalu makan sekenanya karena rasa lapar sudah hilang begitu saja. Tak makan berapa haripun aku merasa tidak lapar, ditambah dengan impulsifnya 5 obat tidur (yang kuakui hanya 3 tablet) masuk ke dalam tubuhku.

Kondisiku tidak baik-baik saja.

Seingatku saat itu aku hanya kesulitan bernafas dengan baik, berkali-kali aku terkulai lemas tapi orang-orang yang mengerubungiku saat itu menepuk nepuk pipiku dan menyuruhku untuk tetap sadar. 

Aku tidak ingin mati.

Batinku saat itu.

Aku mencoba sebisaku untuk menjaga kesadaran. Aku paksakan melafalkan istigfar meski bibirku kesulitan merapalnya, aku merasa hidupku harus tetap berjalan dan aku masih ingin hidup. Bayangan orangtuaku menguatkan diriku. Aku harus tetap sadar dan membuka mata.

Akhirnya setelah ntah 2-3 jam kemudian sesak di dadaku mereda.

Serangkaian pemeriksaan mulai dilakukan. Dari mulai tes darah, tes urine, EKG, rontgen dll. 

Dan semua hasil menunjukkan bahwa : Aku baik-baik saja dan jantungku sehat-sehat saja.

Aku hanya overdosis obat dan maag kronis karena tidak makan.

Lalu inilah alasan rujukan yang awalnya ke Rumah Sakit Umum jadi ke Rumah Sakit Jiwa, apalagi ketika kubilang memang aku sempat didiagnosa memiliki gangguan jiwa dan sempat disarankan rawat inap oleh RSJD.

Sesak yang kurasakan bisa saja tidak nyata alias hanya gejala psikosomatis.

Lalu ketika orangtuaku datang ke Lampung, mereka segera membawaku ke RSJ untuk berobat, sesuai anjuran dokter di RS sebelumnya. Dan ya, ketika datang kesana, konsultasi dengan psikiater, aku memang diharuskan berobat rutin sebulan sekali ke RSJ Daerah Lampung. Sejak awal bulan November tepatnya, aku resmi menjadi pasien rawat jalan disana.

Lalu bagaimana semua ini berawal?

Flashback ke beberapa bulan sebelum aku masuk RS karena overdosis obat. Pergi memeriksakan diri ke psikiater atau psikolog adalah keinginanku sejak awal bulan mei 2021 kemarin. Bukan tanpa alasan. Saat itu jam tidurku mulai kacau, bahkan di bulan juni aku sudah kesulitan tidur nyaris 2 minggu, aku depresi dan mulai berfikir untuk mati.

Kondisiku saat itu pertama kali merantau, jauh dari orangtua dan keluarga. Merasa sendirian dengan segala macam adaptasi yang tidak mudah disini, ditambah dengan drama percintaan yang menyiksaku saat itu. Mentalku tidak kuat.

Awal bulan juni adalah percobaan suicideku yang pertama. Aku mencoba mengiris nadiku dengan pisau, tapi lalu kuurungkan, aku ingat wajah kedua orangtuaku.

Masuk di pertengahan bulan juni aku benar-benar mengiris nadiku, tapi kembali gagal karena temanku keburu bangun dan memergokiku. Aku dimakinya habis-habisan.

Merasa kondisiku semakin tidak benar, akupun berusaha mencari pertolongan. Aku mencari informasi mengenai prakter dokter jiwa atau psikolog di Bandar Lampung. Aku merasa aku harus segera memeriksakan diri.

Dan ketika sudah mulai tidak bisa tidur lagi akupun datang ke Puskesmas, menyampaikan keluhanku dan meminta rujukan ke dokter jiwa. Saat itu BPJS adalah pilihanku karena aku tau, aku butuh dana yang tidak sedikit jika ingin berobat ke profesional tanpa BPJS.

Setelah mendengar keluhanku, melakukan pemeriksaan dengan metode wawancara, maka dokter Puskesmaspun memberikan diagnosa sementaranya  yaitu Bipolar Affective Disorder.  dan merujukku ke RSJ Daerah Lampung.

Pertama kali datang kesana aku masih denial. Masa iya aku sakit?

Tapi aku tidak bisa lagi tutup mata, apalagi semakin hari kondisiku semakin tidak baik. Self harm selalu ada di fikiranku. Aku selalu merasa bahwa semua orang akan bahagia jika aku mati. Jadi karena sudah sedemikian parahnya, aku menguatkan diriku dan tetap melangkah maju ke ruang pemeriksaan.

Di dalam ruangan kecil itu aku menangis meraung-raung ketika dokter bilang kondisiku cukup kronis dan mengharuskanku rawat inap. Aku menggeleng berkali-kali. Membayangkan diriku dirawat di RSJ dengan pasien gangguan mental lainnya membuatku semakin denial. Aku merasa aku tidak separah itu. Dan tentu saja aku menolak untuk rawat inap. Setelah temanku selaku wali menandatangani surat pernyataan, baru aku dieprbolehkan untuk rawat jalan dengan catatan aku tetap harus kontrol secara teratur dan minum obat mood stabilizer yang diresepkan dokter.

Tapi saat itu keluargaku masih menentang terapi obat dan menyuruhku jangan meminum obatnya. Sebagai gantinya aku diharuskan segera mengambil cuti dan pulang ke Tasik untuk psikoterapi.


-to be continue


You Might Also Like

0 komentar

Hi Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar ya :)
Tapi jangan kasar-kasar, jangan ada link hidup juga karena udah pasti aku block.
komentar ya baik-baik aja, kritik boleh tapi sampaikan dengan bahasa yang baik. salam :)

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }