Solo

Travelling Ke Solo

Tuesday, August 27, 2019


Awalnya Solo bukanlah salah satu wishlist liburan saya. Enggak ada sama sekali keinginan saya untuk liburan atau travelling ke Solo. Alasannya sih standar ya, saya fikir Solo dan Jogja ya sama saja. jadi ngapain ke Solo kalau ke Jogja aja saya sudah beberapa kali?


Tapi semua buyar aja gitu pas bulan Maret tahun ini saya ujug-ujug ditodong liburan sama Erda. Dia bilang 'ayolah liburan ke Daerah Jawa, habis sama kamu mau main ke alam enggak jadi terus,' 

Lalu saya nekad meng-iyakan aja gitu. Sebodo amat sama dompet. pokoknya saya mau liburan. heup. 

Bukan saya banget ya? yang biasanya perhitungan banget dan apa-apa kudu banget dibikin plan se-detail mungkin dan anti dadakan? *lol




Jadi ya sebenernya saat itu saya lagi patah hati, mumet banget rasanya dan ingin pergi kemanaaa gitu. Makanya tanpa mikirin duit saya langsung iya-iya aja.




Erda ngajaknya ke Daerah Jawa kan ya? tapi tujuannya sendiri belum kita tentukan secara spesifiknya. Pokoknya liburan. Udah gitu aja.

Awalnya Erda ngusulin ke Semarang. Oh tentu aku mau, aku belum pernah pergi ke Semarang kan ya. Semangat banget ngumpulin informasi sebanyak-banyaknya tentang Semarang. Destinasi wisatanya, kulinernya apalagi. Lalu pas tau di Semarang ada Sam Poo Kong, kelenteng cantik yang sering muncul di TV, aku makin ngebet pengen ke Semarang. Pokoknya mau foto di Sam Poo Kong. Titik.


Kelenteng Sam Poo Kong Semarang https://swa.co.id/

Lalu masalah mulai datang pas kami (Aku dan Erda) sadar kalau kereta ke Semarang enggak ada yang langsung dari Tasik, jadi mesti pake sistem transit dulu yang mana lebih enggak efektif dari segi waktu dan biaya. Btw, saat itu saya cuma punya waktu libur tanggal merah 1 hari, libur sabtu-minggu reguler dan ijin 1 hari jadi totalnya cuma punya waktu 4 hari aja. Makanya kami jadi berfikir lagi soal Semarang. 

Dan tadaaa, muncullah ide buat travelling ke Solo. Erda sih yang ngajuin, lha aku manalah kefikiran kan ya *lol

Setelah fix kota tujuannya Solo, kami mulai berburu tiket kereta. Kereta ekonomi tentunya. Setelah sebelumnya kita argue dulu. Erda mau pulangnya kami pakai kereta executive tapi centu aku tak mau karena asalan sayang budget

Tiket sudah di tangan, kami mulai nyari hotel. Hal yang paling aku suka dari merencanakan perjalanan adalah nyari hotel. Sesuka itu sampai kadang enggak ada plan kemana-manapun aku scroll-scroll traveloka cobak. sesuka itu memang.

Untuk soal hotel ini ya balik lagi ke prinsipku ya, maunya nyari hotel budget aja. Aku lagi suka-sukanya liat-liat capsule hotel di traveloka. Suka karena hotelnya modern banget dan murah. Tapi karena aku belum begitu yakin buat berani tidur di ruang sempit jadinya capsule hotel ini aku ubah pencariannya jadi cabin hotel. Ya masih dengan konsep yang sama, tapi at least ukuran cabin hotel enggak sekecil capsule hotel lah ya.


Setelah dapat hotel yang diinginkan via traveloka, gercep aja gitu langsung saya booking buat semalem. Saking gercepnya saya booking sampai saya salah tanggal check in. Mampus enggak tuh?

Saya panik dong jelas. Sayang banget 200rb an kebuang sia-sia kan ya? mending juga saya pakai makan di Pizza Hut sampe kenyang. huhu sedih pokoknya :((

Kecerobohan saya ini enggak akan jadi fatal kalau saya pilih roomnya yang bisa reschecul ya. Karena kalau saya saya bisa jadwal ulang kan. Enggak pilih room yang bisa di-refund juga. Habislah. Mati.

Tapi apa cuma sampe sana akal saya sodara-sodara?

CENCU TYDAC.

Karena saya masih enggak iklas uang 200rb saya kebuang sia-sia jadi saya cari nomor telepon hotelnya dan langsung telepon kesana lalu saya jelasin kesalahan pas bookingnya dimana. Dan Alhamdulilah pihak hotel bersedia buat rubah tanggalnya secara manual. Good service, lafffff!

Saya booking cabin itu cuma semalem aja. Sisa 2 malamnya Erda mau di hotel yang ada poolnya. Karena katanya dia mau renang. Dan hotel kedua ini nyarinya mayan susah ya, argue mulu saya sama Erda soal hotel kedua ini. Sampe masuk awal bulan april kami belum dapet juga hotel keduanya, padahal tanggal 19nya kami udah berangkat ke Solo.

Stress? Mayan sih, tapi jatohnya bukan stress tapi gemes. Gemes sama diri sendiri, gemes sama Erda juga. Karena kok ya udah mau 2 minggu lagi ke hari H keberangkatan kami belum setuju juga soal hotel kedua?

Aku enggak mau sampe Solo harus cari-cari hotel dulu. Gambling kan ya, terus pastinya juga enggak bisa dapat harga yang lebih variatif. Tapi untungnya masih di awal April juga kami udah sepakat untuk hotel kedua ini. Jadi ya tiket kereta, hotel selama 3 malem udah ada nih, yang kurang tinggal apalagi?

Yak betul! itinerary!

Buat orang kayak saya yang apa-apa harus detail ini, adanya itinerary dalam sebuah perjalanan itu penting banget. Pokoknya saya enggak mau pas nyampe disana bingung mau kemana dan ngapain, lalu ujungnya mati gaya. Sayang waktu banget kan ya.

Tapi waktu saya juga enggak sesantai itu sampe bisa bikin itinerary 4 hari 3 malam di Solo. Saat itu saya lagi kejar setoran banget, jadi weekdays kerja di kantor malemnya sambung proyekan, weekendnya juga proyekan lagi. Jadi soal itinerary ini saya serahkan ke Erda, biar dia yang bikin. Saya cuma setor destinasi wisata mana aja yang sekiranya bisa dikunjungi di Solo dan waktu tempuhnya dari pusat kota, karena saat itu hotel kami letaknya di pusat kota Solo.

Pas lagi browsing soal wisata Solo saya mulai tertarik sama kota ini, mulai lho ya karena pas mengiyakan ajakan Erda ke Solo saya mau karena mau mainnya aja, bukan yang karena tertarik jadi mau kesana. Enggak.

Solo beda dengan Jogja. Sama-sama ada di tengah pulau Jawa, tapi beda. Destinasi Wisatanya juga banyak. Kulinernya banyak dan bermacam-macam yang sampai saat ini masih saya kangenin huhu.



Difotoin Erda

Di tempat makan yang sungguh ikonik di Kota Solo, ayo cobak tebak.


Segitu menariknya Solo bikin saya betah banget disana selama 4 hari 3 malem. Pas udah hari terakhir tuh bawaannya males pulang. Masih mau explore Solo karena saya belum sempat ke daerah Karanganyarnya dan masih penasaran banget sama Candi Ceto. Makanya setelah itu saya niatkan dalam hati biar suatu hari bisa ke Solo lagi dan menuju lebih banyak tempat cantik disana.

Oh iya review hotel dan tempat-tempat yang saya kunjungi di Solo bakal saya tulis di blogspot selanjutnya ya. Sampe ketemu nanti, mwah!







Baca Selengkapnya → Travelling Ke Solo
Drama

Dua Garis Biru : Kata siapa ini film ena-ena?

Sunday, July 21, 2019
makassar.tribunnews.co


Sebelum film ini rilis secara resmi pada tanggal 11 Juli kemarin, sempat ada petisi aneh untuk memprotes film ini. Petisi tersebut ditandatangani lebih dari 200an orang, tapi untungnya saya enggak pernah mikir apalagi sampe ikutan tanda tangan. Karena ya apalah dasarnya? Cuma lihat trailler film lalu langsung judge film ini memberi pengaruh tidak baik dan ya, petisipun dibuat dengan tujuan untuk melarang penayangan film ini d bioskop.

hai.grid.id

Tapi untungnya petisi tidak berlanjut dan film ini tayang dengan cantik di Bioskop. Saya yang memang sudah masukin film ini ke wishlist jelas sangat excited dong ya. Film tayang tanggal 11 Juli saya baru bisa nonton tanggal 13 Julinya hari sabtu pas libur kantor.

Setelah nonton film ini saya makin heran dan enggak habis fikir sama orang yang membuat atau sempat menandatangani petisi tentang pelarangan tayang film ini. Karena film sebagus ini, film yang pesan moralnya sangat bagus seperti ini masa ya harus dipetisi segala? Uedaan.

* Spoiler Alert

Film ini bercerita tentang Dara diperankan oleh Zara JKT48 dan Bima yang diperankan dengan sangat apik oleh Angga Yunanda. Mereka datang dari keluarga baik-baik, bahkan keluarga Bima merupakan keluarga yang cukup agamis. Ayahnya (Arswendy Bening Swara) rajin ikut solat berjamaah di mesjid, ibunya (Cut Mini) menggunakan hijab rapi menutup dadanya. Intinya si Bima dan Dara ini bukan anak-anak yang memiliki pergaulan bebas. Keduanya anak baik-baik, bahkan Dara juga termasuk anak yang pintar di kelasnya. Hanya saya di bagian awal film diceritakan bahwa keduanya melakukan hal yang diluar batas kewajaran sampai Dara hamil. Singkatnya, film ini menggambarkan apa saja yang harus dihadapi oleh Dara dan Bima saat mereka memutuskan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

ngopibareng.id

Film berdurasi hampir dua jam ini di-direct langsung oleh penulis scriptnya, Mbak Gina S. Noer. Penulis naskah keluarga Cemara yang memulai debutnya sebagai sutradara dalam flm ini. Dan harus saya akui, film Dua Garis Biru ini membuktikan bahwa Mbak Gina S. Noer tidak hanya piawai dalam menulis naskah film, tapi juga menyutradarainya.

Film ini sangat terasa sekali ada ‘sentuhan’ wanitanya. Mbak Gina S. Noer berhasil membawa adegan demi adegan dalam film ini dengan sukses. Seperti film drama pada umumnya, film inipun cukup menguras emosi penonton apalagi pada beberapa scene. Beberapa diantaranya adalah scene di UKS yang menurut banyak orang memang scene paling epic dan emosional dalam film ini. Juga scene saat Dara dan Bima datang ke klinik Aborsi. Scene ini cukup emosional juga buat saya. Apalagi ditunjang dengan acting Zara JKT48 yang memang berhasil memunculkan konflik batin serta emosi yang dirasakan oleh Dara lewat tatapan mata dan ekspresi wajahnya.

Setelah flm Keluarga Cemara, saya memang secara resmi menjadikan si Zara ini sebagai oshi saya di JKT48. Saya suka actingnya sebagai Teh Euis dalam film Keluarga Cemara, dan saat menonton film Dua Garis Biru ini saya jadi makin suka sama Zara. Kualitas actingnya memang tidak main-main. Zara berhasil membawakan karakter Dara ini sesuai porsinya.

Saya muji Zara kayak gini bukan karena saya fans JKT48 ya, tapi memang actingnya sebagus itu. Lafff!

Sinematografi keren
Selain cerita, adegan dan acting para pemainnya yang top markotop, saya juga suka film ini karena sinematografinya keren parah. Enggak seperti kebanyakan film drama lain, walaupun konflik dalam film ini bisa dibilang cukup berat, tapi sinematografi yang ditampilkan sangat memanjakan mata penonton. Enggak suram seriusan! Padahal ya, setting rumah Bima itu di gang. Tapi ketika di shoot secara landscape, sama sekali enggak keliatan kumuh di layar. Jatohnya malah jadi epic banget.

Realistis
Bisa dibilang film Dua Garis Biru ini adalah film paling realistis yang pernah saya tonton. Beberapa scene dalam film ini bikin saya membatin ‘ah iya ya bener’ karena beneran can relate banget sama kehidupan nyata. Misalnya saat Bima sempat kabur menghindari Dara setelah da tau kalau Dara hamil. Realistis dong? Bima pasti kaget dan denial dulu iya kan? Jarang banget ada cowok anak SMA di posisi Bima yang akan langsung bisa mengambil sikap dalam kondisi itu.

Contoh lainnya adalah ending dari film ini. Banyak orang bilang kecewa sama endingnya karena kebanyakan dari kita memang lebih suka film dengan ending yang bahagia. Tapi menurut saya dengan ending yang seperti ini justru rasanya lebih relate. Coba deh difikir, berapa benyak pasangan nikah muda karena MBA yang mampu bertahan lama? Enggak banyak.  Lagian ending dari film ini menurut saya adalah puncak dari pesan yang ingin disampaikan. Jadi saya oke-oke aja dengan endingnya.

Banyak Simbol
Ketika saya menonton film ini saya menemukan beberapa simbol yang sangat mudah dicerna maksudnya. Dan simbol-simbol itu merupakan salah satu kekuatan dari film ini. Jadi kalau film drama lain mengutamakan dialog dan shoot secara close up pemainnya, film ini menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menjadi penerjemah adegannya. Dan menurut saya itu bener-bener nunjukin kalau Mbak Gina S. Noer itu bukan sutradara kaleng-kaleng.

Simbol yang paling kentara adalah buah strawberry. Pada satu scene ada Dara yang menyimpan satu buah strawberry diatas perutnya. Lalu camera bergerak men-shoor­ layar laptop di meja Dara yang sedang menunjukan sebuah artikel kehamilan yang mengatakan bahwa pada usia kandungan seperti Dara ukuran bayi akan sebesar buah strawberry.

Adegan berlanjut ketika Dara dan Bima mendatangi klinik aborsi. Scene yang tadi saya bilang cukup emosional itu loh.

Sebelum masuk klinik aborsi tersebut, Bima sempat-sempatnya beli jus dulu. Dan eng ing eng, jus yang dia beli jus strawberry dong. Lha di scene sebelumnya kan djelaskan secara tersirat kalau ukuran bayi Dara sebesar buah strawberry. Iya di scene ini si strawberry menjadi simbol penting.

Saya bisa langsung ngeh maksud dari Mbak Gina S. Noer ketika camera men-shoot strawberry yang sedang diblender. Hal itu cukup menjadi simbol yang sangat menggambarkan kondisi mereka saat itu jika saja mereka benar memutuskan untuk aborsi. Melihat itu Dara seperti disadarkan dan mulai berubah fikiran. Setelah proses adu mulut panjang lebar, Bimapun menuruti keinginan Dara untuk mempertahankan Bayi mereka.

Porsi Komedi yang Pas
Walaupun ceritanya lumayan ‘berat’, film ini tidak lepas dari bumbu komedi juga ternyata. Tapi menurut saya porsi komedinya pas dan enggak berlebihan. Bahkan disaat scene seriuspun Mbak Gina mampu membangun plot twist yang menghibur. Contohnya ada pada saat Dewi (Rachel Amanda) yang merupakan kaka Bima datang ke kamar Bima dan memarahi adiknya. Tapi di akhir adegan Dewi malah mengeluhkan pernikahannya yang batal diadakan gara-gara masalah Bima. Setelah dialog itu orang satu studio bioskop termasuk saya ketawa semua. Ya lucu aja, jadi si Dewi ini sedh karena adiknya menghamili orang lain atau karena pernikahannya batal? *lol

Porsi komedinya juga diisi oleh acting mbak Asri Welas yang menurut saya enggak pernah gagal dalam hal ini. Saya beberapa kali melihat actingnya di film cek toko sebelah, keluarga Cemara, Susah sinyal dll. Semuanya beneran bikin saya ngakak tanpa gagal. Karena liat mbak Asri Welasnya aja saya udah ke sounding bakalan ketawa. Tau sendirilah image beliau dalam beberapa film kan memang lucu.

Acting para pemain
Ntah gimana caranya, tapi para cast di film ini tuh sesuai banget sama perannya. Dalam artian, saya enggak bisa bayangin kalau yang jadi Dara tuh bukan Zara JKT48, atau yang jadi ibunya Bima itu bukan Cut mini, apa scene ngulek bakalan seemosional itu? Kayaknya enggak deh. Kalau bukan Cut Mini saya enggak bakal terlalu mewek di Bioskop karena yang bikin saya nangis itu 70%nya adalan actingnya Cut Mini. Salut!

Cast lain juga enggak kalah kerennya. Saya suka Lulu Tobing dan Dwi Sasono dipasangkan karena rasanya pas dengan ceritanya. Mereka mampu membawakan karakternya dengan sangat baik. Luv!

Angga Yunanda? AH SUDAHLAHHHH.
Dia brondong paling gemesin tahun ini. Dan walaupun kulitnya dibuat tan sekalipun, dimataku dia tetap ganteng maksimal. Chemistrynya sama Zara JKT48 juga dapet banget. IMHO, ngalahin chemistrynya Iqbal-Sasha di film Dilan.

Sorry ya fansnya Dilan, karena ntah kenapa liat Angga-Zara ini rasanya lebih cute dan gemesin aja gitu. Pas mereka lagi adegan romantis ya kita sebagai penonton ikutan baper juga. Pas adegan marahan, penonton juga diajak ikutan sebel. Gemes banget sama anak dua ini, God!

Tapi,
Film ini tetep ada kekurangannya sih. Jadi akupun menilainya dengan objektif. Enggak karena aku fans JKT48 lalu aku bilang film ini tanpa cela. Tetep ada, walaupun enggak banyak. Dan Ketutup sama kelebihan-kelebihan yang kujabarkan tadi.

Missnya menurutku ada di karakter ondel-ondel. Aku tebak ondel-ondel itu adalah simbol dalam film ini juga, tapi sampai akhir film aku masih enggak bisa nangkep juga maksudnya gimana. Dan memang enggak dijelaskan juga dia siapa dan kok ya mau-mauan ngasih Bima pinjaman uang begitu aja. Penonton dibiarkan bertanya-tanya soal siapa si ondel-ondel itu. Dan jujur, sampe sekarangpun saya masih penasaran sih.

Tapi bagaimanapun film ini sangat worth to watch. Untuk para remaja, orang dewasa, bahkan orangtua sekalipun. Justru lebih baik kalau anak bisa nonton bareng sama orangtuanya.

Jadi apa film ini film ena-ena? Jelas bukan. Buat aku film ini adalah film sex education terbaik. Enggak ada adegan ranjang, justru filmnya syarat makna. Makanya sebelum bikin petisi yang malu-maluin sedunia-akhirat baiknya tonton dulu.





Baca Selengkapnya → Dua Garis Biru : Kata siapa ini film ena-ena?

Self Love - Tentang Mencintai Diri Sendiri Pasca Patah Hati

Tuesday, May 07, 2019


Saya mengawali tahun ini dengan patah hati (lagi). Kalau ditanya 'bosen nggak sih lu patah hati terus?', Saya bakal jawab


'ya bosen, Malih. Kalo sabun colek udah dapet hadiah piring kali saking seringnya.'

g i p h y


tapi patah hati kali ini bikin saya bingung harus menyalahkan dan marah pada siapa? Setiap kali saya patah hati karena diselingkuhi saya selalu dengan mudah menyalahkan dan marah pada mantan, it means a lot untuk emosi saya. Saya marah dan bisa meluapkannya kepada orang yang tepat. as simple as that.

Tapi kali ini saya bukan patah hati karena diselingkuhi. Saya tidak dalam kondisi yang tersakiti. Saya baik-baik saja sampai hari ini. Ralat, kami baik-baik saja sampai saat ini. Hampir semua orang terdekat kami kaget saat tahu kalau kami sudah berakhir. Tidak ada yang mengira bahkan saya sekalipun.

Saya bilang kan ini berbeda dengan patah hati yang biasanya. Kondisi kami baik, setiap hari jarang sekali ada konflik, dia jauh lebih berfikir dewasa. Dia mengimbangi sikap childish saya. 

Dia nggak bisa saya salahkan dan marahi gara-gara sudah membuat saya patah hati, karena nyatanya dia nggak sebrengsek beberapa mantan saya. Keputusan ini juga saya yang pilih. Dan saya memutuskannya tidak dalam waktu semalam.

Waktu saya curhat kalau saya sudah putus di IG story banyak DM dari temen saya yang masuk. mostly pada nanya kenapa? apalagi yang tahu saya sama dia jelaslah pada nanya terus. Tapi saya nggak share alasannya karena memang sangat pribadi. Intinya harus putus saja karena kami punya 2 prinsip yang berbeda yang kalau dipaksain terus rasanya juga nggak akan bener. Dia keukeuh dan saya juga tetap pada pendirian saya. Jalan satu-satunya, ya putus.

Setelah putus yang banyak kena nyinyir siapa coba?

Ya jelas saya. Banyak buddy friends saya bilang saya bodoh, udah diajak nikah kok malah minta putus.

Saya nanggepinnya selow aja sih. Orang lain nggak tahu gimana yang sebenernya dan kalopun nikah sama dia kan yang jalanin saya toh bukan orang lain? Jadi yaudah, kalo udah sebel dinyinyirin biasanya saya nyengir aja atau langsung ngalihin pembicaraan.

***
Walaupun saya yang mutusin buat selesai bukan berarti saya nggak sepatah hati dia. Karena jatohnya sama aja. Mana ada sih orang yang mau putus, bener nggak?

Setiap orang selalu mau kisahnya berakhir happy.

Cuma walaupun harus berakhir dan patah hati (lagi), saya mensyukurinya. Saya berterimakasih kepada diri saya sendiri karena sudah mampu melawan hati. Saya sanggup loh mengakhiri ini ketika bahkan hati saya nolak buat selesai. 

Dan rasanya semuanya jadi mudah. Proses patah hati nggak selama biasanya, bukan berarti karena saya udah punya gebetan baru ya. Cuma karena saya sadar. Saya dan dia masih bisa tetap berhubungan baik meskipun masih ada canggung. At least, kita nggak saling blokir kayak saya sama the mantans. 😂😂😂

Lalu setelah patah hati apa yang saya lakukan?

Langsung buka traveloka dan cari hotel. random. kebetulan dua hari kemudian Erda temen saya whatsapp saya dan ngajakin travelling. Saya yang saat itu emang lagi doyan scroll-scroll Traveloka ya jadi kayak dikasih jalan. Makanya walaupun saat itu budget saya buat travelling setipis bulu ketek, saya nekat aja tuh nge-iyain ajakan Erda. Pesen tiket kereta, tiket hotel dan beli ini itu buat persiapan travelling yang dijadwalin perginya pas bulan April, bulan kelahiranku. jadi kuanggap ini macem hadiah buat diri sendiri lah ya. Setelah patah hati, travelling. Dan bener loh, pulang travelling aku jadi agak tenang. Nggak sesedih kemarin-kemarin.

Cerita soal travelling ini bakal aku tulis di blogspot terpisah. Biar ala-ala travel-blogger kekinian atuh kan.


 



Baca Selengkapnya → Self Love - Tentang Mencintai Diri Sendiri Pasca Patah Hati

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }