Karena Wanita Tidak Sebatas Dapur, Sumur dan Kasur

Sunday, December 10, 2017
pixabay
Menurut saya pribadi, ungkapan 'istrimah di rumah aja urus suami dan anak' itu udah so yesterday.

Nggak relate aja gitu sama zaman. Karena gender equality yang mati-matian diperjuangin Ibu Kartini bikin wanitapun punya power saat ini.
Contohnya di Indonesia sendiri,

Wanita tentu boleh mencari nafkah.
Wanita boleh menyetir kendaraan sendiri.
Wanita boleh menyuarakan aspirasinya lewat PEMILU.
Wanita boleh menjadi anggota legislatif.
Wanita boleh jadi menteri.
Wanita boleh jadi presiden.

dan boleh-boleh lainnya.

Nggak karena saya wanita lalu pendidikan saya dibatasi cuma sampai sekolah menengah atas misalnya. Nggak kan?

Mau sekolah sampe S3pun ya monggo.

Jadi kenapa masih ada para calon suami yang berfikir kalau istri ya nggak boleh kerja dan cuma tau perkara dapur, sumur dan kasur?

Nggak fair atuh euy.

***
Alkisah suatu hari saya deket sama si A, sebut aja gitu.
Secara karir okelah dia udah mapan ya? pegawai tetap salah satu kantor swasta besar di Tasik. Salary not bad lah. Cukup untuk menghidupi istri dan 2 anaknya kelak. Keluarganya saya tau adalah keluarga yang baik-baik. Ayahnya pengusaha sekaligus pemuka agama di tempat tinggalnya. Ibunya guru PNS di salah satu SMP di Tasik.

Basicly, dia nyaris mendekati tipe calon suami idaman kecuali prinsip sakleknya kalau kelak siapapun yang jadi istrinya HARUS JADI FULL TIME IRT. Nggak pake negosiasi karena dia ngerasa ibunya yang sebagai guru nggak cukup merhatiin dia sebagai anaknya. Jadi dia takut kalau nanti anaknya juga mengalami hal yang sama.

'cukup aku aja, keturunanku jangan (kurang perhatian dan kasih saya ibu),' katanya. 

Nggak salah sih memang. Wajar banget dia punya ketakutan seperti itu. Karena mungkin di masa lalu, ketika dia sangat-sangat membutuhkan perhatian penuh ibunya, dia nggak bisa dapet karena kesibukan si ibu  mengajar.

Jadi saat ini dia nyari istri yang mau jadi Stay At Home Mom. Yang fokus urus suami dan anak saja.

Tidak ada yang salah dengan prinsip si A, kecuali ketika dia keukeuh memaksakan kehendaknya pada saya.

Dari awal saya tahu kalau prinsipnya seperti itu, saya udah mundur perlahan. Karena ya sadar diri euy. nggak akan cocok saya kalau sama dia.

Untuk saya pribadi, jadi stay at home mom itu bayangannya bakal challenging banget.

Iya bayangan karena kan saya belum nikah, lol.

Gimana nggak challenging cobak? Saya nganggur beberapa bulan aja di rumah udah stress. Saya senengnya ya kerja,ikutan komunitas, eksplore diri, belajar sana-sini, main, nongkrong atau apapun asal nggak di rumah terus.

Kalaupun nanti nikah, saya nggak pengen berhenti kerja dengan alasan 'karena dilarang suami'. Saya pengen berhenti kerja karena memang sayanya yang udah nggak mau kerja. gitchu.

Makanya ketika prinsip si A sangat berbanding terbalik sama prinsip saya, yaudah bubye aja.Cari lagi yang lain. Yang sebisa mungkin satu prinsip sama saya, kalau wanita juga butuh aktualisasi diri. Dalam kasus saya sih, diijinkan bekerja setelah menikah.

***
Memang banyak orang yang setuju kalau wanita yang akan segera menjadi istri orang urusannya ya sekedar urusan domestik saja.

Nggak salah memang. Karena setiap orang kan prinsipnya beda-beda.

Cuma menurut saya, memang nggak adil aja kalau seseorang dibatasi ruang geraknya cuma karena dia sudah jadi istri dan ibu.

Memangnya setelah jadi istri haram ya cari ilmu dan kerja? kan nggak.

Justru terlepas dari mau jadi apa si wanita itu kelak, ya dia harus cerdas. Inget kan quotesnya mbak Dian Santro yang maha terkenal itu?

http://daenerysm.blogspot.co.id

Walaupun sebenernya berpendidikan tinggi tidak selalu sama dengan cerdas dan berpendidikan rendah tidak melulu berarti tidak cerdas. Intinya tetap satu : Ntah berpendidikan tinggi atau tidak, wanita tetap harus cerdas.

Iya harus banget. Karena sebenernya urusan wanita yang sudah jadi istri dan ibu itu lebih kompleks dari sekedar urusan dapur, sumur dan kasur. 

Kenapa saya bilang lebih kompleks? Karena idealnya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak cerdas butuh di didik oleh ibu yang cerdas. Dan perkara didik-mendidik ini nggak semudah yang dibayangkan.

Terus apa hubungannya sama dilarang kerja?

Buat saya kerja adalah proses saya belajar dan berkembang. Saya bisa upgrade skill saya saat ini ya dari pekerjaan. selain dari kegiatan lain macem ikut komunitas, baca buku dll loh ya.

Singkatnya, saya kerja ya saya belajar. Bisa update terus informasi setiap hari. Bisa berkembang terus dan terus tanpa ada batasan karena saya wanita yang seharusnya di rumah.

Jadi udahlah ya, siapapun calon suami saya kelak. Please baca ini. Dan mengertilah. Saya butuh tetap bekerja demi kewarasan jiwa saya. Saya butuh berkembang dan belajar terus biar bisa jadi ibu cerdas yang kelak akan mendidik anak-anakmu.

Jangan larang saya keluar dari rumah dengan dalih 'istri harusnya layanin suami di rumah'

Biarkan saya tetap berkegiatan, selama itu positif dan tidak mengganggu kewajiban saya sebagai istri nantinya, tolong di ijinkan. 🙏🙏

*DITA HALU PEMIRSA*

Tapi memang ya, sekali lagi saya disadarkan, kalau mencari pasangan hidup itu memang harus yang satu prinsip. Yang nggak terlalu beda. yang sama pola fikirnya. Biar nggak terlalu banyak masalah di kemudian hari.

Demi goals semua calon pengantin muslim di seluruh dunia : sakinah mawadah warohmah.

***




 







You Might Also Like

4 komentar

  1. Kalo aku terbalik mba. Dari dulu mikirnya nggak mau kerja kalo udah nikah. Malah sebelum nikah aku udh resign dan dirumah aja menjalankan bisnis heheh..

    ReplyDelete
  2. Sebelum menikah pengen kerja kantoran. Setelah menikah sudah nggak pengen. Suami sebenarnya nggak ngelarang sih. Tapi aku enjoy di rumah dan tetap bisa nyari receh. Aku selalu salut sama ibu2 yang bekerja.
    Bener deh, nyari suami harus seprinsip. Bisa kacau kalau berseberangan.

    ReplyDelete
  3. Meski di rumah, tapi tetap bisa kok update pengetahuan, ikut komunitas, kegiatan sana dan sini (tanpa meninggalkan kewajiban sbg istri). Alhamdulillah suami saya tidak melarang saya bekerja, tapi malah saya nya yg nggak mau. hihi... pengen jadi mom intrepeneur (amiin). soalnya uda pengalaman kerja dan memang mau nggak mau ibu bekerja harus mengorbankan keluarga krn tugas negara. Apa pun pilihannya yang penting kita tidak melalaikan tugas sbg ibu dan istri yes... :D

    ReplyDelete
  4. Santai aja mbak. Yg mempermasalahkan pilihan hidup orang lain itu biasanya krn didalam hati nggak puas dg kehidupannya sendiri. Waktu aku sering tugas ke luar negeri, suami yg pegang anak. Setelah aku resign & jadi ibu RT, nggak lantas aku hrs ngerjain semua pekerjaan rumah sih. Sama aja spt sebelumnya.
    Btw di blogku sdg ada giveaway utk para wanita. Ikut yuk. :)

    ReplyDelete

Hi Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar ya :)
Tapi jangan kasar-kasar, jangan ada link hidup juga karena udah pasti aku block.
komentar ya baik-baik aja, kritik boleh tapi sampaikan dengan bahasa yang baik. salam :)

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }