DIY

DIY : Percantik Case Handphone Lamamu Dengan Printilan Sederhana Ini

Monday, February 06, 2017

Semenjak kenalan sama smartphone, saya nyaris nggak bisa lepas dari case. Jenis accesories henpon yang paling banyak saya koleksi. Jenisnya random sih, ada softcase, hardcase, flip cover, wallet etc. Lebih dari sekedar alasan proteksi, saya sering beli case dengan alasan ‘bosen’. Iya bosen.

Bosen sama tampilan henpon yang gitu-gitu aja. makanya sekali saya punya satu smartphone, misal jangkanya setahun, case yang saya beli bisa sampe 7-9 case. Sebagian besar saya beli online, sisanya saya beli disini.

Saking banyaknya case yang saya ‘koleksi’ tanpa sadar, saya sampe lupa dimana nyimpennya. Makanya pas saya mau pake, pasti saya cari dulu. Ribet.

Saya udah buka tokped buat hunting case baru sebelum saya kefikiran buat me-rekondisi aja case lama saya.

DAN TARAAA...

Sayapun mutusin buat bikin aja, DIY-DIYan kayak orang lain. Modal kuteks bening sama kertas origami aja saya iseng aja ngakalin case lama yang udah butut. Buat kalian yang mau ngikutin bisa ya, tutorialnya bakal saya tulis disini dengan se-simple mungkin. CEKIDOT.

First, siapin bahannya lah.


Fyi, tipe henpon saya Xiaomi Redmi 2 ya. Kalau ada yang mau kasih upgrade boleh QAQAAA, email saya aja ya *LOL* *LOL* *LOL*

1. Case lama yang mau di-rekondisi. Kalau saya pake bekas flip case yang udah saya cabut bagian depannya, jadi tinggal softcase bagian belakangnya aja. Ini fotonya.




As you see,  bagian belakang casenya cacat, bekas saya cabut kulit sintetis dari bagian depan flipcasenya.

2. Kertas origami warna-warni. Optional sih bisa diganti pake post-it atau kertas warna-warni lain yang penting kece sih, lebih banyak warna lebih bagus ya.

3. Kuteks bening. HARUS BENING. Inget ya. Bisa sih bening yang ada bling-blingnya gitu, asal jangan pake yang warna lain.


4.  Double tape.

5.  Gunting

Second,

potong kertas origami dengan ukuran kecil, nggak usah diukur ya, pake kira-kira aja lah.



Untuk setiap potongan kertas, tempelkan double tape di pinggirnya.



Tempelkan satu persatu di atas case yang sudah disiapkan.



Setelah semua kertas sudah menempel dengan cantiknya dan menutupi semua bagian case, oleskan kuteks ke semua bagian case. Tujuannya adalah untuk merekatkan kertas origami pada case dan membuat kesan glossy.



Ini hasilnya ya, kurang rapih sih, bukan kurang rapih lagi nggak rapih mungkin. I think, kalau kalian bisa bikin yang lebih rapih, hasilnya pasti bagus nggak kayak saya : ))))))))))












Baca Selengkapnya → DIY : Percantik Case Handphone Lamamu Dengan Printilan Sederhana Ini
#Sundaytalk

#Sundaytalk : Critics

Sunday, February 05, 2017

Pernah di kritik nggak? Kayaknya, mostly pasti pernah deh.
Kalo di kritik di depan umum? Di sosmed? Di depan gebetan, di depan calon mertua, di depan pacar pernah nggak?

Kalo pernah sini kita toss dulu.

Ini punyanya A Irfan :

Suka bete nggak sih kalo dapet kritikan dadakan di depan banyak orang?
Kalo saya BETE BANGET NAUDZUBILLAH! Apalagi di sosmed, anjay atuhlah sosmed itu ruang publik bisa diliat banyak orang. zzzzZZZZZzzzzz

Saya percaya ungkapan ‘kritik itu membangun’ tapi kalo diaplikasikan di depan banyak orang apalagi sosmed, which is menurut saya itu malah kesannya jadi menjatohkan. Ngagubragkeun bahasa sundanya.
http://divaanandasilva.blogspot.co.id
Karena apa ya? Karena kritikus yang baik tau ruang untuk mengeluarkan kritikannya. Karena jika tujuan dia memang ingin kita berbenah untuk jadi lebih baik maka dia pasti bisa menempatkan diri. Kapan dan dimana dia harus mengkritik. Nggak di depan banyak orang juga keleus. Apalagi di sosmed, ih NAY banget ya kalo menurut saya.

Saya nggak menyamakan point of view saya sama berbagai acara kompetisi di TV atau dimanapun yang ketika si peserta unjuk gigi terus dikomentarin dan dikritik. Itu wajar ya? Misal saya ikutan Dangdut Academy (Ini misal ya? Karena nekat banget kalau saya beneran ikut, suara nggak mendukung, penampilan nggak mendukung, ya pokoknya nekat we) dan saya dikomentarin atau bahkan dikritik habis-habisan sama Soimah, Mba Inul, Beniqno, Bunda Rita dll saya nggak akan kesinggung ataupun marah, even mereka kritik saya di depan banyak orang dan disiarkan dimana-mana. Nggak, karena itu memang tempatnya. Kompetisi memang tempatnya kritik. Kritik yang dapat membangun kualitas peserta untuk jadi lebih baik lagi. Nggak salah tempat sih kalo menurut saya.

Dan kalau saya yang nggak ikutan kompetisi apapun, Cuma update status di Facebook terus langsung di kritik kurang enak, ya saya marahlah. Tapi yang perlu kalian tau jenis marah saya bukan marah yang langsung nge-block si tersangka atau marah-marah langsung ke dia. Bukan ya. Karena jenis marah sayamah marah yang anggun. Anggun aja diem. Diem-diem nangis di pojokan.

http://divaanandasilva.blogspot.co.id
Lalu apa saya hapus komentar kritikannya? NAY. Nggak, saya nggak hapus. Karena buat apa? Sedikitnya pasti udah ada yang baca, nggak ngefek sih. Saya cuma berbenah diri aja, mungkin memang ada yang kurang dari saya. zzzzZZZZzzzz so dewasa banget akika. Tapi emang iya, saya hapus komentar sama aja saya nyinggung si kritikus sosmed itu kan ya? Dan saya nggak mau. Nggak mau nyinggung orang lain karena saya juga nggak suka disinggung apalagi ditikung.

Jadi maunya gimana, dit? Maunya ya kalaupun dia sayang banget sama saya, mau saya nggak terapi nulis di status facebook ya dia BBM saya lah, kan punya BBM gitchu lhoooo... dia sama saya kadang keep in touch di BBM, saya juga mayan sering pasang PM alay di BBM, jadi dia pasti tau jelas kalau BBM saya aktif dan dia bisa kritik saya habis-habisan di BBM, saya nrimo, saya perbaiki. Case closed.

Lebih enak nggak sih?

Saya apresiasi banget partner musiclodia saya, Erda namanya. Sekali waktu dia pernah maen ke blog saya, alih-alih komentar di kolom komentar, dia malah BBM saya. dia kritik saya, dia bilang cara penulisan saya EYDnya masih banyak yang salah. Akibat self-editing yang sering saya lewatin tiap kali post blog, karena buru-buru, partner saya udah post dan siaga 3 saya masih nulis. BAHAHAHA.

Tapi saya nrimo banget dikritik Erda, makanya saya mulai nyempetin waktu buat self-editing se-sempit apapun waktunya. Fyi, saya nggak pasang alarm khusus buat nulis #sundaytalk, jadi pure seadanya waktu.

See, efeknya beda banget kan? Antara dikritik Erda dan dikritik seseorang di sosmed? Saya jadi belajar, mau berubah. Tapi lain masalah kalau Erda kritik sayanya di kolom komentar, mungkin saya bisa mugen. Kalo kritik sekedar ngomentarin sih nggak papa, tapi kalo udah cenderung menjatuhkan di ruang publik, ini yang patut dihindari.

Paham kan?

Jadi untuk kritik ya baiknya disampaikan one by one. Langsung aja ke orangnya. Karena alih-alih niat membenarkan nanti jatohnya malah menjatuhkan. Kan nggak baik.

Jatuh itu sakit kakak. Apalagi jatuh cinta. Sama pacar orang.


http://apocaleches40k.blogspot.co.id/
HEUP!

Intinya, lebih bijaklah dalam bersosmed, pilah-pilih deh forum mana dan apa aja yang bisa jadi konsumsi publik. Itu aja sih mungkin.

Kalo ada yang kesinggung, maybe kritikus saya di sosmed baca ini, mbok ya saya minta maaf. Bukannya cemen karena nggak berani ngomong langsung, biarlah begini saja. Karena kalaupun saya ngomong ke dia belum tentu dia terima yakan?

Oke. Segitu aja sih.

Eh iya, minggu ini #Sundaytalk double posting ya. Jadi saya sama partner nulis 2 tema sekaligus PROKPROKPROK.

Biar apa? Biar nebus yang bolos minggu kemarin. Kalau kalian mau baca marathon-post saya satu lagi di hari ini bisa dibaca lewat sini : How I Spend And Save My Money

Edisi #sundaytalk lainnya







Baca Selengkapnya → #Sundaytalk : Critics

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }