Sudah Move On Kah ?

Monday, April 06, 2015
Berawal saat suatu sore, sehabis janji dengan nasabah (karena aku adalah seorang insurance agent) aku dan teman satu kantorku, seorang gadis dengan pembawaan yang humoris, polos dan ceria, sebut saja Bebi, memutuskan untuk sekedar nongkrong sekalian ngemil di salah satu restoran pasta di pusat kota.

Setelah memesan beberapa menu ringan seperti all pepperoni dan garlic bread, iseng-iseng aku buka instagram di handphone. Tiba-tiba aja si Bebi nyeletuk

“lagi apa teh? Lagi stalking mantan ya?” tanyanya sambil cengar cengir.
Sepersekian detik aku Cuma bengong. Stalking mantan ? problematika zaman sekarang, saat kita buka sosmed, orang terdekat kita pasti berfikir kalau kita mau stalking kehidupan mantan kita. Selalu seperti itu. Garis bawahi oke ?

“Nggak kok, lagi liat news aja di IG, males banget stalking mantan,” jawabku saat itu. Bebi masih senyum-senyum nggak jelas menanggapi jawabanku.

“Lagian mantan yang mana coba yang mau di stalking ? ngga ada yang penting, nggak pengen tahu juga kehidupan mereka kayak apa sekarang,” lanjutku lagi, Bebi masih mesem-mesem. Seolah apa yang aku katakan tidak datang dari hatiku. Hei, dia fikir aku bohong ! What the..

“Yakin teteh udah Move on?” Bebi balik bertanya.

“Yakin,” jawabku sepenuh hati.

“Sama yang itu lho teh, yang orang batak,”

Satu nama sensitif. Tanpa bisa disadari tubuhku bereaksi secara spontan.

“Sama yang itu juga udah kok. Kan sekarang ada yang baru,” jelas aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang awkward ini.

Tapi rupanya Bebi tidak terpengaruh, dengan semangat 45, bahkan setelah semua pesanan kami tersedia, gadis yang masih berusia 19 tahun itu terus-terusan membahas aku-yang-gagal-move-on-dari-orang-batak.

Dan mau tidak mau aku mulai ikut terpengaruh untuk berfikir.

Apa memang aku sudah  move on ?

“Kalo emang teteh udah move on, masa iya sampe sekarang masih aja jomblo ? sama si Anu juga teteh emang pacaran ? kan engga, Cuma deket”

Iya sih. Setelah jadian singkat sama si Al**, yang kebetulannya orang batak, dan kebetulan lagi mantan aku saat SMA, aku ngga pacaran lagi.

Saat deket sama yang sekarangpun, aku ngga pacaran. Komitmen kami jelas, hubungan ini hubungan serius, malu sama umur kalo pacaran. Tapi apa bener salah satu alesan lainnya adalah karena aku gagal move on ?

Move on.
Sebuah istilah yang sangat booming, terutama di kalangan anak muda saat ini.

Move on adalah berpindah.

Pindah hati, dari mantan, pada figur yang baru.
Aku fikir aku sudah Move on, tapi kembali bimbang saat Bebi dengan polosnya menggodaku.

Sudah Move onkah ?

Aku rasa sudah

Dengan seseorang yang baru saat ini kami memang memutuskan untuk tidak pacaran. Karena memang untuk menghindari dosa yang rentan terjadi saat dua orang berstatus pacaran, juga karena kami sama-sama orang yang punya mimpi besar dan sedang berjuang untuk mengejar mimpi kami. Dia sibuk dengan segala usahanya. Dan aku sibuk dengan usahaku, branding, marketing, produksi, kualitas produk dan hal lainnya. Aku tidak ingin terikat agar saat kami berpisah karena bukan jodoh tidak ada lagi yang akan tersakiti. Tidak sepeti sebelumnya. Oke, contohnya Ko wahyu
(Makasih yah udah ijinin namanya di publish terus di setiap tulisan aku hihi) perpisahan kami, tentunya karena aku yang mulai, tentu saja sangat menyakiti ko wahyu. Apalagi karena alasan orang lain. Orang ketiga.

Dan lagi, aku lebih nyaman dengan hubungan seperti ini. Tidak terikat dan bebas. Bebas dalam arti, tidak ada ikatan emosi, tanggung jawab dan keharusan untuk memperhatikan terus-menerus setiap saat.

Walaupun jarang bertemu. Tapi aku nyaman dengan kebersamaan kami. Aku menunggu janjinya untuk menghalalkanku secepatnya, aku menikmati masa-masa dimana ada seseorang yang bisa menjadi beberapa peran langsung untukku.

Dan atas dasar itu aku bisa bilang kalau aku sudah move on dari cinta lamaku.

Yah, walau kadang masih saja penasaran saat menemukan namanya di timeline twitter, terkadang tergoda untuk visit ke akun pathnya. Tapi hanya itu. Bukan stalking-stalking semacam penasaran dia sama siapa sekarang, seperti apa  kondisinya sekarang. Bukan, bukan seperti itu.

Aku selalu percaya baiknya Takdir. Indahnya rencana Tuhan, tentu aku tak bisa menutup mata akan hal itu. Sebesar apapun aku berharap pada seorang manusia, kalau Tuhan menunjukan bukan dia orangnya. Aku bisa apa?

Apalagi kita memanggil nama Tuhan dengan panggilan yang berbeda. Berdoa dengan cara yang berbeda,memiliki Rumah Tuhan yang berbeda. Tidak cukupkah Tuhan menunjukan bukan dia orangnya?

Sakit, ya tentu saja. Tapi life must go on.

Yang terpenting, aku percaya kalau suatu hubungan yang diawali dengan penghianatan pasti akan diakhiri dengan pengkhianatan juga. Seseuatu yang diawali dengan tidak baik, pasti akan memiliki akhir yang buruk juga. Aku yakin itu.


Ko, kalau ko wahyu baca Lovelife-nya aku yang ini. Beribu maaf aku ucapin. Aku yang tau sakitnya dikhianatin, kok bisa-bisanya melakukan hal sehina itu ke koko ? koko yang baik, yang ngerti, yang soleh cukup kok, takdir sudah membawaku pada pelajaran paling berharga dalam hidup. Janji dan tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan saat kita meninggal nanti.

You Might Also Like

0 komentar

Hi Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar ya :)
Tapi jangan kasar-kasar, jangan ada link hidup juga karena udah pasti aku block.
komentar ya baik-baik aja, kritik boleh tapi sampaikan dengan bahasa yang baik. salam :)

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }