Drama

Dua Garis Biru : Kata siapa ini film ena-ena?

Sunday, July 21, 2019
makassar.tribunnews.co


Sebelum film ini rilis secara resmi pada tanggal 11 Juli kemarin, sempat ada petisi aneh untuk memprotes film ini. Petisi tersebut ditandatangani lebih dari 200an orang, tapi untungnya saya enggak pernah mikir apalagi sampe ikutan tanda tangan. Karena ya apalah dasarnya? Cuma lihat trailler film lalu langsung judge film ini memberi pengaruh tidak baik dan ya, petisipun dibuat dengan tujuan untuk melarang penayangan film ini d bioskop.

hai.grid.id

Tapi untungnya petisi tidak berlanjut dan film ini tayang dengan cantik di Bioskop. Saya yang memang sudah masukin film ini ke wishlist jelas sangat excited dong ya. Film tayang tanggal 11 Juli saya baru bisa nonton tanggal 13 Julinya hari sabtu pas libur kantor.

Setelah nonton film ini saya makin heran dan enggak habis fikir sama orang yang membuat atau sempat menandatangani petisi tentang pelarangan tayang film ini. Karena film sebagus ini, film yang pesan moralnya sangat bagus seperti ini masa ya harus dipetisi segala? Uedaan.

* Spoiler Alert

Film ini bercerita tentang Dara diperankan oleh Zara JKT48 dan Bima yang diperankan dengan sangat apik oleh Angga Yunanda. Mereka datang dari keluarga baik-baik, bahkan keluarga Bima merupakan keluarga yang cukup agamis. Ayahnya (Arswendy Bening Swara) rajin ikut solat berjamaah di mesjid, ibunya (Cut Mini) menggunakan hijab rapi menutup dadanya. Intinya si Bima dan Dara ini bukan anak-anak yang memiliki pergaulan bebas. Keduanya anak baik-baik, bahkan Dara juga termasuk anak yang pintar di kelasnya. Hanya saya di bagian awal film diceritakan bahwa keduanya melakukan hal yang diluar batas kewajaran sampai Dara hamil. Singkatnya, film ini menggambarkan apa saja yang harus dihadapi oleh Dara dan Bima saat mereka memutuskan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

ngopibareng.id

Film berdurasi hampir dua jam ini di-direct langsung oleh penulis scriptnya, Mbak Gina S. Noer. Penulis naskah keluarga Cemara yang memulai debutnya sebagai sutradara dalam flm ini. Dan harus saya akui, film Dua Garis Biru ini membuktikan bahwa Mbak Gina S. Noer tidak hanya piawai dalam menulis naskah film, tapi juga menyutradarainya.

Film ini sangat terasa sekali ada ‘sentuhan’ wanitanya. Mbak Gina S. Noer berhasil membawa adegan demi adegan dalam film ini dengan sukses. Seperti film drama pada umumnya, film inipun cukup menguras emosi penonton apalagi pada beberapa scene. Beberapa diantaranya adalah scene di UKS yang menurut banyak orang memang scene paling epic dan emosional dalam film ini. Juga scene saat Dara dan Bima datang ke klinik Aborsi. Scene ini cukup emosional juga buat saya. Apalagi ditunjang dengan acting Zara JKT48 yang memang berhasil memunculkan konflik batin serta emosi yang dirasakan oleh Dara lewat tatapan mata dan ekspresi wajahnya.

Setelah flm Keluarga Cemara, saya memang secara resmi menjadikan si Zara ini sebagai oshi saya di JKT48. Saya suka actingnya sebagai Teh Euis dalam film Keluarga Cemara, dan saat menonton film Dua Garis Biru ini saya jadi makin suka sama Zara. Kualitas actingnya memang tidak main-main. Zara berhasil membawakan karakter Dara ini sesuai porsinya.

Saya muji Zara kayak gini bukan karena saya fans JKT48 ya, tapi memang actingnya sebagus itu. Lafff!

Sinematografi keren
Selain cerita, adegan dan acting para pemainnya yang top markotop, saya juga suka film ini karena sinematografinya keren parah. Enggak seperti kebanyakan film drama lain, walaupun konflik dalam film ini bisa dibilang cukup berat, tapi sinematografi yang ditampilkan sangat memanjakan mata penonton. Enggak suram seriusan! Padahal ya, setting rumah Bima itu di gang. Tapi ketika di shoot secara landscape, sama sekali enggak keliatan kumuh di layar. Jatohnya malah jadi epic banget.

Realistis
Bisa dibilang film Dua Garis Biru ini adalah film paling realistis yang pernah saya tonton. Beberapa scene dalam film ini bikin saya membatin ‘ah iya ya bener’ karena beneran can relate banget sama kehidupan nyata. Misalnya saat Bima sempat kabur menghindari Dara setelah da tau kalau Dara hamil. Realistis dong? Bima pasti kaget dan denial dulu iya kan? Jarang banget ada cowok anak SMA di posisi Bima yang akan langsung bisa mengambil sikap dalam kondisi itu.

Contoh lainnya adalah ending dari film ini. Banyak orang bilang kecewa sama endingnya karena kebanyakan dari kita memang lebih suka film dengan ending yang bahagia. Tapi menurut saya dengan ending yang seperti ini justru rasanya lebih relate. Coba deh difikir, berapa benyak pasangan nikah muda karena MBA yang mampu bertahan lama? Enggak banyak.  Lagian ending dari film ini menurut saya adalah puncak dari pesan yang ingin disampaikan. Jadi saya oke-oke aja dengan endingnya.

Banyak Simbol
Ketika saya menonton film ini saya menemukan beberapa simbol yang sangat mudah dicerna maksudnya. Dan simbol-simbol itu merupakan salah satu kekuatan dari film ini. Jadi kalau film drama lain mengutamakan dialog dan shoot secara close up pemainnya, film ini menggunakan simbol-simbol tertentu untuk menjadi penerjemah adegannya. Dan menurut saya itu bener-bener nunjukin kalau Mbak Gina S. Noer itu bukan sutradara kaleng-kaleng.

Simbol yang paling kentara adalah buah strawberry. Pada satu scene ada Dara yang menyimpan satu buah strawberry diatas perutnya. Lalu camera bergerak men-shoor­ layar laptop di meja Dara yang sedang menunjukan sebuah artikel kehamilan yang mengatakan bahwa pada usia kandungan seperti Dara ukuran bayi akan sebesar buah strawberry.

Adegan berlanjut ketika Dara dan Bima mendatangi klinik aborsi. Scene yang tadi saya bilang cukup emosional itu loh.

Sebelum masuk klinik aborsi tersebut, Bima sempat-sempatnya beli jus dulu. Dan eng ing eng, jus yang dia beli jus strawberry dong. Lha di scene sebelumnya kan djelaskan secara tersirat kalau ukuran bayi Dara sebesar buah strawberry. Iya di scene ini si strawberry menjadi simbol penting.

Saya bisa langsung ngeh maksud dari Mbak Gina S. Noer ketika camera men-shoot strawberry yang sedang diblender. Hal itu cukup menjadi simbol yang sangat menggambarkan kondisi mereka saat itu jika saja mereka benar memutuskan untuk aborsi. Melihat itu Dara seperti disadarkan dan mulai berubah fikiran. Setelah proses adu mulut panjang lebar, Bimapun menuruti keinginan Dara untuk mempertahankan Bayi mereka.

Porsi Komedi yang Pas
Walaupun ceritanya lumayan ‘berat’, film ini tidak lepas dari bumbu komedi juga ternyata. Tapi menurut saya porsi komedinya pas dan enggak berlebihan. Bahkan disaat scene seriuspun Mbak Gina mampu membangun plot twist yang menghibur. Contohnya ada pada saat Dewi (Rachel Amanda) yang merupakan kaka Bima datang ke kamar Bima dan memarahi adiknya. Tapi di akhir adegan Dewi malah mengeluhkan pernikahannya yang batal diadakan gara-gara masalah Bima. Setelah dialog itu orang satu studio bioskop termasuk saya ketawa semua. Ya lucu aja, jadi si Dewi ini sedh karena adiknya menghamili orang lain atau karena pernikahannya batal? *lol

Porsi komedinya juga diisi oleh acting mbak Asri Welas yang menurut saya enggak pernah gagal dalam hal ini. Saya beberapa kali melihat actingnya di film cek toko sebelah, keluarga Cemara, Susah sinyal dll. Semuanya beneran bikin saya ngakak tanpa gagal. Karena liat mbak Asri Welasnya aja saya udah ke sounding bakalan ketawa. Tau sendirilah image beliau dalam beberapa film kan memang lucu.

Acting para pemain
Ntah gimana caranya, tapi para cast di film ini tuh sesuai banget sama perannya. Dalam artian, saya enggak bisa bayangin kalau yang jadi Dara tuh bukan Zara JKT48, atau yang jadi ibunya Bima itu bukan Cut mini, apa scene ngulek bakalan seemosional itu? Kayaknya enggak deh. Kalau bukan Cut Mini saya enggak bakal terlalu mewek di Bioskop karena yang bikin saya nangis itu 70%nya adalan actingnya Cut Mini. Salut!

Cast lain juga enggak kalah kerennya. Saya suka Lulu Tobing dan Dwi Sasono dipasangkan karena rasanya pas dengan ceritanya. Mereka mampu membawakan karakternya dengan sangat baik. Luv!

Angga Yunanda? AH SUDAHLAHHHH.
Dia brondong paling gemesin tahun ini. Dan walaupun kulitnya dibuat tan sekalipun, dimataku dia tetap ganteng maksimal. Chemistrynya sama Zara JKT48 juga dapet banget. IMHO, ngalahin chemistrynya Iqbal-Sasha di film Dilan.

Sorry ya fansnya Dilan, karena ntah kenapa liat Angga-Zara ini rasanya lebih cute dan gemesin aja gitu. Pas mereka lagi adegan romantis ya kita sebagai penonton ikutan baper juga. Pas adegan marahan, penonton juga diajak ikutan sebel. Gemes banget sama anak dua ini, God!

Tapi,
Film ini tetep ada kekurangannya sih. Jadi akupun menilainya dengan objektif. Enggak karena aku fans JKT48 lalu aku bilang film ini tanpa cela. Tetep ada, walaupun enggak banyak. Dan Ketutup sama kelebihan-kelebihan yang kujabarkan tadi.

Missnya menurutku ada di karakter ondel-ondel. Aku tebak ondel-ondel itu adalah simbol dalam film ini juga, tapi sampai akhir film aku masih enggak bisa nangkep juga maksudnya gimana. Dan memang enggak dijelaskan juga dia siapa dan kok ya mau-mauan ngasih Bima pinjaman uang begitu aja. Penonton dibiarkan bertanya-tanya soal siapa si ondel-ondel itu. Dan jujur, sampe sekarangpun saya masih penasaran sih.

Tapi bagaimanapun film ini sangat worth to watch. Untuk para remaja, orang dewasa, bahkan orangtua sekalipun. Justru lebih baik kalau anak bisa nonton bareng sama orangtuanya.

Jadi apa film ini film ena-ena? Jelas bukan. Buat aku film ini adalah film sex education terbaik. Enggak ada adegan ranjang, justru filmnya syarat makna. Makanya sebelum bikin petisi yang malu-maluin sedunia-akhirat baiknya tonton dulu.





Baca Selengkapnya → Dua Garis Biru : Kata siapa ini film ena-ena?

Self Love - Tentang Mencintai Diri Sendiri Pasca Patah Hati

Tuesday, May 07, 2019


Saya mengawali tahun ini dengan patah hati (lagi). Kalau ditanya 'bosen nggak sih lu patah hati terus?', Saya bakal jawab


'ya bosen, Malih. Kalo sabun colek udah dapet hadiah piring kali saking seringnya.'

g i p h y


tapi patah hati kali ini bikin saya bingung harus menyalahkan dan marah pada siapa? Setiap kali saya patah hati karena diselingkuhi saya selalu dengan mudah menyalahkan dan marah pada mantan, it means a lot untuk emosi saya. Saya marah dan bisa meluapkannya kepada orang yang tepat. as simple as that.

Tapi kali ini saya bukan patah hati karena diselingkuhi. Saya tidak dalam kondisi yang tersakiti. Saya baik-baik saja sampai hari ini. Ralat, kami baik-baik saja sampai saat ini. Hampir semua orang terdekat kami kaget saat tahu kalau kami sudah berakhir. Tidak ada yang mengira bahkan saya sekalipun.

Saya bilang kan ini berbeda dengan patah hati yang biasanya. Kondisi kami baik, setiap hari jarang sekali ada konflik, dia jauh lebih berfikir dewasa. Dia mengimbangi sikap childish saya. 

Dia nggak bisa saya salahkan dan marahi gara-gara sudah membuat saya patah hati, karena nyatanya dia nggak sebrengsek beberapa mantan saya. Keputusan ini juga saya yang pilih. Dan saya memutuskannya tidak dalam waktu semalam.

Waktu saya curhat kalau saya sudah putus di IG story banyak DM dari temen saya yang masuk. mostly pada nanya kenapa? apalagi yang tahu saya sama dia jelaslah pada nanya terus. Tapi saya nggak share alasannya karena memang sangat pribadi. Intinya harus putus saja karena kami punya 2 prinsip yang berbeda yang kalau dipaksain terus rasanya juga nggak akan bener. Dia keukeuh dan saya juga tetap pada pendirian saya. Jalan satu-satunya, ya putus.

Setelah putus yang banyak kena nyinyir siapa coba?

Ya jelas saya. Banyak buddy friends saya bilang saya bodoh, udah diajak nikah kok malah minta putus.

Saya nanggepinnya selow aja sih. Orang lain nggak tahu gimana yang sebenernya dan kalopun nikah sama dia kan yang jalanin saya toh bukan orang lain? Jadi yaudah, kalo udah sebel dinyinyirin biasanya saya nyengir aja atau langsung ngalihin pembicaraan.

***
Walaupun saya yang mutusin buat selesai bukan berarti saya nggak sepatah hati dia. Karena jatohnya sama aja. Mana ada sih orang yang mau putus, bener nggak?

Setiap orang selalu mau kisahnya berakhir happy.

Cuma walaupun harus berakhir dan patah hati (lagi), saya mensyukurinya. Saya berterimakasih kepada diri saya sendiri karena sudah mampu melawan hati. Saya sanggup loh mengakhiri ini ketika bahkan hati saya nolak buat selesai. 

Dan rasanya semuanya jadi mudah. Proses patah hati nggak selama biasanya, bukan berarti karena saya udah punya gebetan baru ya. Cuma karena saya sadar. Saya dan dia masih bisa tetap berhubungan baik meskipun masih ada canggung. At least, kita nggak saling blokir kayak saya sama the mantans. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Lalu setelah patah hati apa yang saya lakukan?

Langsung buka traveloka dan cari hotel. random. kebetulan dua hari kemudian Erda temen saya whatsapp saya dan ngajakin travelling. Saya yang saat itu emang lagi doyan scroll-scroll Traveloka ya jadi kayak dikasih jalan. Makanya walaupun saat itu budget saya buat travelling setipis bulu ketek, saya nekat aja tuh nge-iyain ajakan Erda. Pesen tiket kereta, tiket hotel dan beli ini itu buat persiapan travelling yang dijadwalin perginya pas bulan April, bulan kelahiranku. jadi kuanggap ini macem hadiah buat diri sendiri lah ya. Setelah patah hati, travelling. Dan bener loh, pulang travelling aku jadi agak tenang. Nggak sesedih kemarin-kemarin.

Cerita soal travelling ini bakal aku tulis di blogspot terpisah. Biar ala-ala travel-blogger kekinian atuh kan.


 



Baca Selengkapnya → Self Love - Tentang Mencintai Diri Sendiri Pasca Patah Hati
Happy

35 Jam Di Jogja, Ngapain Aja?

Sunday, September 30, 2018


Jum'at Malam, Tasikmalaya.

Akhir bulan agustus lalu sekitar jam 7 malam saya sedang gelisah di meja kantor. Karena kesalahan saya dalam pekerjaan, mau tidak mau malam itu saya harus lembur di kantor. Akhir bulan di hari jumat. Nggak akhir bulan aja kalau hari jum'at ya sama memang hectic, apalagi akhir bulan.

Handphone saya berkali-kali bergetar, whatsapp masuk dari adik dan ibu saya yang bertanya kapan saya akan pulang saat itu. Saya membalas sekedarnya dan segera kembali berkutat dengan pekerjaan. Fokus saya saat itu adalah : Ingin segera menyelesaikan pekerjaan akhir bulan dan pulang.

Beruntungnya sebelum pukul setengah 8, semua pekerjaan saya selesai. Dengan agak terburu-buru saya bergegas mematikan komputer dan segera pulang.

Sampai rumah saya nggak bisa langsung goler-goler bahagia kayak biasanya tiap kali pulang kantor, tapi langsung masuk kamar mandi dan mandi kilat. Mandi yang beneran kilat sampe saya nggak inget saat itu saya sabunan apa nggak. Hahaha.

Yang penting cepet.

Cepet. Cepet.

Saya pake baju dan dandan ala kadarnyapun serba cepet. Malah nggak sampe hitungan tiga puluh menit saya udah di jalan ke stasiun Tasik. 

Sepanjang jalan saya senyam-senyum nggak jelas. Bukan tanpa alasan, ini pertama kalinya saya ke stasiun bukan karena nganter atau jemput orang lain, tapi saya sendiri yang bakal naik kereta. So happy. Hahaha. Sungguh bahagiakumah receh, Maklum lah ya nggak pernah naik kereta sebelumnya.

Saking happynya saya malem itu, diburu-buruin sama adek sayapun saya nggak kesel kayak biasanya.

Pas sampe stasiun, alhamdulilah saya nggak ketinggalan kereta. Kalo sampe ketinggalan kereta saya bisa nangis kejang disana, ngenes lah, udah ditinggal mantan nikah, masih ditinggal kereta juga.


g i p h y

Kereta saya saat itu kereta kahuripan kelas ekonomi. Ya mau kelas apa emang? mampunya bayar ekonomi *lol.

Sambil nunggu kereta, cekrek dulu di stasiun sambil bawa koper, kesannya traveller banget kan ya?


Kelewat pinter ya kresek Hisana Fried Chicken buat bekal di kereta digantung di koper *lol


Jam 9 tepat kereta datang, saya dan adek saya berdua segera naik dengan antusias. antusias sampe saya kepayahan narik-narik koper dan kehilangan keanggunan dalam sekejap. 

Tapi siapa peduli? saya mau liburan kok. Lanjut narik-narik koper lagi dengan gagah.

***
Sabtu pagi, Jogjakarta.

Sampe stasiun Lempuyangan Jogja jam 3 subuh, tadinya mau kuliner tengah malem disana, tapi adek saya ogah dan pengen cepet-cepet ke rumah kakak saya di Godean.

Sayang sih sebenernya, rencana saya di Jogja saat itu cuma sampe sampe minggu siang doang, maunya kuliner dulu banyakin, tapi yaudahlah ya, saya mutusin buat ke godean dulu biar sekalian istirahat.

Paginya hari sabtu, kakak saya ngajakin ke Malioboro. Karena ya ampun, nggak afdol banget kalo ke Jogja tapi nggak ke Malioboro ya kan?

Saya start jalan dari hotel Ina Jogja, jalan-jalan happy aja sambil pegangan tangan sama ponakan saya. Rencananya memang kayak gitu. Sekalian liat-liat barang untuk oleh- oleh. Di Malioboro kan terkenal tempat oleh-oleh khas Jogja yang murah-meriah tuh. Budget 100k bisa buat oleh-oleh belasan orang tuh. Lumayan banget.

Cuma yang bikin saya pangling saat itu adalah kondisi Malioboronya sendiri, sekitar tahun 2014 lalu saya pernah kesana dan kok kayaknya belum serapi sekarang ya? trotoar buat pejalan kakinya jadi lebih luas dan bersih. Nyaman deh buat gegoleran jalan disana.

gandengan tangan gini sama ponakan di jalan Malioboro udah paling romantis emang.

Kami jalan di Malioboro sampe siang. Setelah puas ngubek-ngubek Pasar Beringharjo demi oleh-oleh, kami nyebrang ke Hamzah batik. Disini barang-barangnya lebih otentik lagi. Ada patung Raminten di lantai 1 dengan ekspresi wajahnya yang khas. Saya nggak tahan dong pengen foto bareng patungnya.



Tapi sayangnya setelah foto ini saya baru nyadar kalo batre handphone saya sudah tinggal 6% lag. Ngenes banget saya, ya ampun dih, momentnya lagi bagus kok handphonenya lowbath sih, kan kesel ya. Apalagi saat itu sialnya saya nggak bawa charger.

Makanya pas kami makan di Raminten Cabaret Show, Hamzah Batik Lantai 3 itu saya agak ngenes sebenernya, kami pesen beberapa makanan yang nggak sempet saya abadikan di handphone saya. Mau pakai handphone adek tapi cameranya nggak kece, burem gitu kayak hubungan kamu sama pacar baru kamu.

Campur aduk. Ya kesel, ya pasrah, mau cari konter rasanya mau beli hp buat moto. Hahaha. Soalnya niat saya ke Jogja tuh selain mau nengokin ponakan, ya mau foto-foto plus kuliner. Trus review kuliner dan saya masukin ke insta-story plus bikin live di IG. Tapi apa daya, belum punya camera dan handphone saya juga cepet habis batrenya. Mau nangis, karena kapan lagi dong ya liburan kayak gitu.




g i p h y


Minggu pagi, Jogjakarta.
Nggak mau kehilangan momen lagi, setelah solat subuh saya langsung charge Hp saya sampe penuh. Biar pas ke Tamansari hari itu Hp saya nggak mati lagi dan bisa dipake buat foto sebanyak-banyaknya.

Jarak Rumah kakak saya di daerah Godean ke Tamansari itu nggak jauh-jauh amat. Kuran dari setengah jam aja udah nyampe. Sayangnya karena saya datengnya minggu pagi, Tamansari saat itu banyak di datangi wisatawan. Kebayang sih ini bakal banyak foto bocor karena ya gimana susah kan emang pas kebetulan datengnya pas weekend.

Ini pertama kalinya saya ke Tamansari, dan sepertinya nanti bakal kesana lagi, nagih dan banyak spot foto yang belum saya explore mahaha.

Untungnya disini kejadian nggak bisa foto karena batre Hp habis nggak terulang. Tapi drama lain teteup ada, dan ini sama ngeselinnya sama kejadian di Malioboro kemarinnya.

Kejadian hp ketika saya lagi butuh-butuhnya itu macem kamu ditinggalin pacar pas lagi cinta-cintanya. Sedih nggak coba? ditambah lagi drama baru di Tamansari ini. Kendalanya masih soal Handhphone.

Makanya setelah itu saya mikir kayaknya saya butuh handphone baru deh, biar nanti ketika ada rezeki buat liburan lagi saya nggak kehilangan momen lagi kayak waktu di Malioboro Jogja itu.

Dan setelah browsing sana-sini, baca-baca review di blog dan youtube, kayaknya handphone yang cocok buat saya tuh adalah huawei nova 3i.

Soalnya selain batrenya cepet habis, hp lama saya juga memori internalnya nggak gede-gede banget. Buat saya yang doyannya selfie ini masalah banget. Nggak keren coba pas saya masih pengen foto-foto di Tamansari, batre masih kuat bertahan, eh memorinya penuh.

Saya suka pengen kayang kalo udah ada notif memori penuh. Mau nggak mau saya harus spare waktu buat ngapusin dulu foto dan aplikasi yang jarang dipake demi bisa nambah foto baru. Kesel deh pokoknya, liburan saya nggak sempurna cuma karena handphone. 

Makanya, kenapa saya pengen ganti HP pake huawei nova 3i, alasannya adalah :

1. Yang pertama dan paling utama buat banci selfie nan suka install-install aplikasi berfaedah sampe aplikasi yang unfaedah adalah karena huawei nova 3i punya internal storage yang segede gengsi kamu. 128 GB! waaaw! Mau tiap nafas selfie juga cukup itu memori, mau install game apapun ya bisa. Luas banget kayak hati kamu pas ngiklasin dia pergi sama pacar barunya. hiks.

2. Desainnya yang super duper keren. Keren banget. Depan belakang ya keren. Layar depannya lebar dan cantik banget ada poni yang di dalemnya ada dua kamera plus speaker. ukuran layarnya sendiri 6.3 inch fullView (harap nggak langsung pingsan ya pas baca ini) Body belakangnya duh, bikin jatuh cinta. Mewah dan berkelas banget untuk hp mid-end. Karena gimana nggak mewah? Bagian belakangnya dilapisi kaca anti gores, jadi bikin gradasi warna unyu gitu loh. Keren ya nggak?


Cantik banget, nggak nahan.❤❤❤❤❤


3. Nggak kalah penting juga buat pecinta foto kayak saya yang makan apapun kudu difotoin dulu. Hp ini juga dibekali dengan 4 kamera. 4 coy! ini  camera hp apa boyband korea? Hahaha. Bahagianya lagi, camera hp huawei nova 3i sudah dilengkapi dengan teknologi AI, sehingga bisa memaksimalkan hasil kualitas foto, Widih, mauuukk.

4. Diperkuat dengan GPU turbo yang untuk keperluan gaming. Sini mana yang doyan main mobalejen? Pake hp ini biar pas lagi main nggak ngelag.


***

Minggu Malam, 30 September 2018, Saat ini di Tasikmalaya.

Jadi tulisan ini ditutup dengan harapan semoga, saya bisa punya rezeki lagi untuk travelling ke berbagai tempat, tentunya tanpa kehilangan banyak momen lagi. Daaaan, semoga secepetnya si cantik huawei nova 3i bisa cepet-cepet ada di genggaman. Hahaha. Mudah-mudahan ya bisa punya smartphone hebat ini dalam waktu dekat. Aamiin.



Baca Selengkapnya → 35 Jam Di Jogja, Ngapain Aja?
#DiaryDuoSingle

Jangan Mau Jadi Mak Comblang

Saturday, May 26, 2018


Iya jangan mau. Apalagi mak comblang dadakan yang gatel liat temen lagi jomblo.

Gatel maksudnya pengen jodo-jodoin temen biar cepet dapet pacar. Apapun itu tujuannya, ya janganlah. Kecuali nanya dulu sama orangnya, mau nggak dikenalin sama orang? jangan langsung ambil tindakan tanpa mikirin perasaan dia. Karena itu kerasa sama saya nggak enaknya digituin.

Ini tulisan collab sama Mbak Roma Pakpahan, baca juga tulisannya disini ya,
Hai Para Single, Dijodohin Yay or Nay?

Nasib jadi perawan si usia rawan ya gini, dikit-dikit dicomblangin sama si anu, si ini, si onoh. Lama-lama udah kek barang obralan aja nomor whatsapp saya dibagi-bagi. Ck.

Pengen marah sih, tapi ya susah. Kalo saya complain ke temen yang ujug-ujug ngasih nomor saya ke temen cowoknya, dia paling cuma jawab gini : Ya nggak papalah Dit kenalan doang mah nggak rugi. Cocok ya syukur alhamdulilah, nggak cocok yaudah temenan aja. 

as simple as that katanya.

Tapi ntah kenapa buat saya jatohnya malah jadi ngeselin banget. Iya sih, i know, temen-temen saya begitu karena sayang sama saya, pengennya saya cepet nemu yang cocok dan kemudian happy ending di pelaminan

Tapi ya nggak begitu juga keleeeusss. Pake statement 'keknya cocok deh sama kamu' tapi pas saya tanya tau cocok nggaknya darimana, dia malah jawab 'yakan sama-sama jomblo'.

Ebusseh,

g i p h y

Sama-sama jomblo itu memang bisa jadi indikator mutlak ya kenapa satu orang cocok dengan yang lainnya? Kan nggak ya gengs?

Makanya kalo ada niat mulia buat jadi mak comblang, ya at least kenali dulu lah karakter 2 orangnya. Kalo yang satu perokok, sementara satu lainnya nyium asep rokok aja udah sesek (kayak saya) ya nggak cocoklah. Itu baru habit ya, belum karakter. Sungguhlah sebenernya jadi mak comblang itu nggak se-simple liat temen lagi jomblo lalu dikenalin sama temen lain lawan jenis yang juga lagi jomblo. Nggak gitu.

Setaun kemarin saya sempet bikin status kayak gini di facebook,


ini saya lagi bener-bener kesel aja. Kebayang nggak? Pas saya mau istirahat kantor temen saya tiba-tiba whatsapp saya bilang temennya yang ntah namanya siapa, saya lupa, udah ada di depan kantor dan mau ngajakin makan siang.

Cengo lah saya. Ini apa-apaan? Mau nggak disamperin ya kesian lah anak orang nungguin kan? disamperin ya siapa coba? kenal aja nggak. Lagian baru whatsapp-an sekali dua kali lalu dia udah mau-mau aja diutus ke kantor saya. Heran

Ujungnya ya saya samperin aja, canggung dan awkward banget oy. pertama kali ketemu, sekali dua kali whatsappan. Terus ya gitu, saya bilang aja kalo saya nggak bisa makan siang bareng dia karena lagi ada kerjaan dan kemungkinan saya skip lunch karena udah sedia sari roti sandwich yang bisa saya makan sambil kerja.

Ini saya 100% boong.

Bohong banget. Saat itu saya lagi nggak ada kerjaan, wong kerjaan saya emang santai kok. Saya juga nggak punya stok sari roti, bohong itu. Karena ya masa atuh saya jujur bilang sama dia kalo saya nggak mau makan siang sama stranger karena takut diculik. terus ya masa ih baru pertama kali kenal lalu makan siang bareng? canggung nggak sih?

g i p h y

Jadi ya sama yang itu nggak lanjut karena sayanya keburu takut duluan karena ujug-ujug disamperin ke kantor. Alasan lain karena ya saya baru putus sebulanan lah, lagi masa-masa galau banget. Masa-masa muaklah sama cinta, yang denger lagu cinta aja bawaannya sensi pengen marah. Ibaratnya saya kena diare, belum sembuh eh malah maksa makan bakso pedes lagi, cari mati nggak?

Yaiya, pasti ada aja yang usil bilang 'justru kalo patah hati gara-gara cowok ya obatnya sama cowok lagi lah'

Eh, lukata. ckck.

***

Terus kalo keluarga gimana?
Syukurnya keluarga saya bukan tipe yang ribet ya. Nanya sih ada beberapa kali tapi nggak ngoyo gitu loh. nggak sampe seniat itu ngasih-ngasih kontak saya ke orang lain. sekali dua kali tante saya pernah nanya mau nggak dikenalin sama si A, orangnya gini-gini-gini, kerjaannya gitu, keluarganya begini, ibadahnya begini. Ya gitu, at least lebih enak ke sayanya. Jadi sebelum meng-yay-or-nay-kan, saya jadi punya pertimbangan dulu.

Lagian kalo saya emang udah nemu yang klik dihati ya tanpa harus dicomblanginpun akhirnya ya saya pacaran kok. Meskipun endingnya tetep pisah. 

( baca juga : sometimes LDR can be shit )

Ya intinya yukmari cus kita hargai orang lain, sekalipun dia jomblo yang mungkin dimata kalian yang nggak jomblo mereka nggak lebih dari fakir asmara, tetep hargai aja. Kalo mau nyomblangin ya jangan asal gercep, tanya dulu lah ya baiknya.

Apalagi kalo jomblonya baru sebulan dua bulan, ini nggak usah buru-buru dicariin pacar ya? Banyak cara kok untuk bikin happy temen jomblo kalian selain dari jadi mak comblang dadakan yang annoying.

Udah ya gitu aja, nulis ini saya emang agak kesel kok. AHHAHA. maklum ya jomblomah sensian.

Kalo kalian gimana? Kalo ada yang suka nyomblangin gitu suka kesyel nggak? atau selow aja dan nrimo gitu?

Share yuuuk.





Baca Selengkapnya → Jangan Mau Jadi Mak Comblang
relationship

Blokir Kontak Mantan, yay or nay?

Sunday, April 29, 2018


Udah lama nggak ngeblog jadi marilah kita bahas soal retjeh aja ya?

Tentang memblokir kontak (include semua sosmed) mantan dari semua lini kehidupan kita. Elaaaaah.

Sering nggak sih denger orang bilang 'nggak usah diblokir lah, keliatan banget dong lu gagal move onnya,'

Saya suka jadi lucu sendiri dengernya.

Ya kalo baik-baik aja putusnya sih nggak akan lah ada kata blokir-memblokir segala, yekan? Yang bikin gatel pengen nge-block itu biasanya sama mantan yang putusnya kita fight dulu. Apalagi kalo si mantannya do something ke kita. Ambisi ngeblock itu ya jadi makin membara. Dan IMHO, itu wajar kok. Banget.

Sekarang gini, bullshit lah ada orang yang baik-baik saja ketika putus, apalagi kalau dia sayang sama si pacar yang berubah status jadi mantan. Jadi ya kenapa harus pura-pura tetap oke dengan nggak memblokir kontaknya si mantan?

Ya okelah kalo dia siap lahir bathin buat liat updatean si mantan sama pacar barunya, nah kalo nggak?  

Menurut saya, nggak papa kok setelah putus kita keliatan sakit atau kecewa. Nggak usah so-soan tegar tapi nangis guling-guling di kamar. Keliatan still okay depan mantan tapi aslinya depresi banget. Nggak papa, karena ya itu normal.


( Baca juga tulisan saya tentang depresi disini : Stop Judging Suicide Victims

Kurang-kurangin drama lah.

Terus apa nggak malu ya keliatan 'hancur' di depan mantan?
Saya sih nggak. Kalo dulu saya bakal pura-pura bahagia aja gitu. Di sosmed nggak pernah saya share yang galau-galau. Pencitraan is a must  lah ya pokoknya.

Lalu saya sadar, ngapain sih kayak gitu? Malah nyiksa diri tau nggak? Tiap hari saya lelah kudu pura-pura bikin status bahagia di facebook hanya demi diliat sama mantan. Padahal hati saya hancur lebur liat update-an mantan sama si pacar baru. Kondisi psikis saya nggak stabil jadinya. Tanpa sadar saya malah nyimpen bom waktu yang siap meledak kapan saja. 

Makanya sekarang yaudah, tiap kali saya pacaran dan berakhir dengan Sad Ending, apalagi kalo dia ketahuan selingkuhin saya, nomornya, semua akun sosmednya, saya block semua. At least untuk sementara waktu.

g i p h y

Ntah orang lain bagaimana, tapi di saya dengan nggak berhubungan sama sekali, atau nggak liat kabar dia sama sekali di lini sosmed, saya bisa lebih waras menghadapi perpisahan. Bisa lebih cepet move on juga. Jadi buat saya ngeblokir kontak mantan itu pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan proses moving on saya. 

( Baca juga : Move On, Try to Forgive Myself )

Biasanya setelah saya okay, saya buka lagi blokirnya. Kecuali nomor sih ya, kalo sosmed bolehlah, kalo nomor kayaknya dari dulupun saya nggak sebaik itu sampe mau komunikasi sama mantan via nomor (include whatsapp ya).

Lalu mulai komunikasi lagi? 
Nggak juga sih. Maksudnya kalau saya yang memulai sungguh ogah syekali ya gengs..yang bener ajalah. Tapi so far mantan yang hubungi duluan, sialnya ada yang hubungi saya buat ngundang saya ke kawinannya *Lol*. Ya nggak papa sih saya udah move on juga saat itu. Saya welcome aja kayak keset pas dia ngundang, tapi nggak dateng juga ke kondangannya. Karena ya ngerasa nggak sedekat itu untuk dateng. Cuma mantan, manusia masa lalu yekan?

Yang nggak hubungin saya juga ada. Ya nggak papa juga, mendingan kayak gitu kali. Kalo dihubungi takutnya nanti move on saya hancur. 😜

Familiar sama meme ini nggak?

https://me.me

Mungkin kalian yang nggak pernah rasain ya nyengir aja liat meme itu, tapi buat saya yang pernah ngerasain, wuih baper dan kesel dalam satu waktu. Makanya kalo bau-bau nostalgia mulai kecium, dan posisi saya masih baper kemungkinan besar saya belum move on, makanya kalo udah gini biasanya saya block lagi orangnya, menghindar sejauh-jauhnya atau pura-pura jadi kaktus pas ketemu.

Tega? Biarin. Toh saya ngulang proses move on  dari awal lagi kok. Poinnya jadi satu sama.

Jadi konklusinya, ya blokir aja nggak papa, bukan untuk menunjukan kelemahan kita tanpa dia juga kok. Tapi lebih ke reminder buat diri kita sendiri, buat dia juga yang udah do something ke kita, ntah itu ninggalin tanpa alesan, selingkuh, dan alasan-alasan 'rendah' lainnya. Nggak papa, biar kita waras dulu dan biar dianya juga mikir lah. Udah nyakitin hati anak orang sampe diblokir begitu. Sukur-sukur dia nggak gitu lagi sama orang lain. Tapi kalo hati kalian tahan banting liat dia mondar-mandir ngisi halaman sosmed kalian, go ahead. nggak usah di blokir nggak papa. Asal beneran kuat.

Blah, aku sinis syekali😍😍

BHAY.







Baca Selengkapnya → Blokir Kontak Mantan, yay or nay?

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }