General

Karena Wanita Tidak Sebatas Dapur, Sumur dan Kasur

Sunday, December 10, 2017
pixabay
Menurut saya pribadi, ungkapan 'istrimah di rumah aja urus suami dan anak' itu udah so yesterday.

Nggak relate aja gitu sama zaman. Karena gender equality yang mati-matian diperjuangin Ibu Kartini bikin wanitapun punya power saat ini.
Contohnya di Indonesia sendiri,

Wanita tentu boleh mencari nafkah.
Wanita boleh menyetir kendaraan sendiri.
Wanita boleh menyuarakan aspirasinya lewat PEMILU.
Wanita boleh menjadi anggota legislatif.
Wanita boleh jadi menteri.
Wanita boleh jadi presiden.

dan boleh-boleh lainnya.

Nggak karena saya wanita lalu pendidikan saya dibatasi cuma sampai sekolah menengah atas misalnya. Nggak kan?

Mau sekolah sampe S3pun ya monggo.

Jadi kenapa masih ada para calon suami yang berfikir kalau istri ya nggak boleh kerja dan cuma tau perkara dapur, sumur dan kasur?

Nggak fair atuh euy.

***
Alkisah suatu hari saya deket sama si A, sebut aja gitu.
Secara karir okelah dia udah mapan ya? pegawai tetap salah satu kantor swasta besar di Tasik. Salary not bad lah. Cukup untuk menghidupi istri dan 2 anaknya kelak. Keluarganya saya tau adalah keluarga yang baik-baik. Ayahnya pengusaha sekaligus pemuka agama di tempat tinggalnya. Ibunya guru PNS di salah satu SMP di Tasik.

Basicly, dia nyaris mendekati tipe calon suami idaman kecuali prinsip sakleknya kalau kelak siapapun yang jadi istrinya HARUS JADI FULL TIME IRT. Nggak pake negosiasi karena dia ngerasa ibunya yang sebagai guru nggak cukup merhatiin dia sebagai anaknya. Jadi dia takut kalau nanti anaknya juga mengalami hal yang sama.

'cukup aku aja, keturunanku jangan (kurang perhatian dan kasih saya ibu),' katanya. 

Nggak salah sih memang. Wajar banget dia punya ketakutan seperti itu. Karena mungkin di masa lalu, ketika dia sangat-sangat membutuhkan perhatian penuh ibunya, dia nggak bisa dapet karena kesibukan si ibu  mengajar.

Jadi saat ini dia nyari istri yang mau jadi Stay At Home Mom. Yang fokus urus suami dan anak saja.

Tidak ada yang salah dengan prinsip si A, kecuali ketika dia keukeuh memaksakan kehendaknya pada saya.

Dari awal saya tahu kalau prinsipnya seperti itu, saya udah mundur perlahan. Karena ya sadar diri euy. nggak akan cocok saya kalau sama dia.

Untuk saya pribadi, jadi stay at home mom itu bayangannya bakal challenging banget.

Iya bayangan karena kan saya belum nikah, lol.

Gimana nggak challenging cobak? Saya nganggur beberapa bulan aja di rumah udah stress. Saya senengnya ya kerja,ikutan komunitas, eksplore diri, belajar sana-sini, main, nongkrong atau apapun asal nggak di rumah terus.

Kalaupun nanti nikah, saya nggak pengen berhenti kerja dengan alasan 'karena dilarang suami'. Saya pengen berhenti kerja karena memang sayanya yang udah nggak mau kerja. gitchu.

Makanya ketika prinsip si A sangat berbanding terbalik sama prinsip saya, yaudah bubye aja.Cari lagi yang lain. Yang sebisa mungkin satu prinsip sama saya, kalau wanita juga butuh aktualisasi diri. Dalam kasus saya sih, diijinkan bekerja setelah menikah.

***
Memang banyak orang yang setuju kalau wanita yang akan segera menjadi istri orang urusannya ya sekedar urusan domestik saja.

Nggak salah memang. Karena setiap orang kan prinsipnya beda-beda.

Cuma menurut saya, memang nggak adil aja kalau seseorang dibatasi ruang geraknya cuma karena dia sudah jadi istri dan ibu.

Memangnya setelah jadi istri haram ya cari ilmu dan kerja? kan nggak.

Justru terlepas dari mau jadi apa si wanita itu kelak, ya dia harus cerdas. Inget kan quotesnya mbak Dian Santro yang maha terkenal itu?

http://daenerysm.blogspot.co.id

Walaupun sebenernya berpendidikan tinggi tidak selalu sama dengan cerdas dan berpendidikan rendah tidak melulu berarti tidak cerdas. Intinya tetap satu : Ntah berpendidikan tinggi atau tidak, wanita tetap harus cerdas.

Iya harus banget. Karena sebenernya urusan wanita yang sudah jadi istri dan ibu itu lebih kompleks dari sekedar urusan dapur, sumur dan kasur. 

Kenapa saya bilang lebih kompleks? Karena idealnya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak cerdas butuh di didik oleh ibu yang cerdas. Dan perkara didik-mendidik ini nggak semudah yang dibayangkan.

Terus apa hubungannya sama dilarang kerja?

Buat saya kerja adalah proses saya belajar dan berkembang. Saya bisa upgrade skill saya saat ini ya dari pekerjaan. selain dari kegiatan lain macem ikut komunitas, baca buku dll loh ya.

Singkatnya, saya kerja ya saya belajar. Bisa update terus informasi setiap hari. Bisa berkembang terus dan terus tanpa ada batasan karena saya wanita yang seharusnya di rumah.

Jadi udahlah ya, siapapun calon suami saya kelak. Please baca ini. Dan mengertilah. Saya butuh tetap bekerja demi kewarasan jiwa saya. Saya butuh berkembang dan belajar terus biar bisa jadi ibu cerdas yang kelak akan mendidik anak-anakmu.

Jangan larang saya keluar dari rumah dengan dalih 'istri harusnya layanin suami di rumah'

Biarkan saya tetap berkegiatan, selama itu positif dan tidak mengganggu kewajiban saya sebagai istri nantinya, tolong di ijinkan. πŸ™πŸ™

*DITA HALU PEMIRSA*

Tapi memang ya, sekali lagi saya disadarkan, kalau mencari pasangan hidup itu memang harus yang satu prinsip. Yang nggak terlalu beda. yang sama pola fikirnya. Biar nggak terlalu banyak masalah di kemudian hari.

Demi goals semua calon pengantin muslim di seluruh dunia : sakinah mawadah warohmah.

***




 







Baca Selengkapnya → Karena Wanita Tidak Sebatas Dapur, Sumur dan Kasur
opini

Memangnya Kenapa Kalau Rina Nose Buka Hijab?

Tuesday, November 14, 2017
Brilio.net

Sungguh judul yang ciamik ya?

Jangan hujat aku pehlis

πŸ˜†πŸ˜†

Saya gemes banget pengen nulis ini dari kemarin-kemarin. Tapi maju mundur euy. Apalagi pas dikasih link youtube Deep conversation antara Rina Nose dan Deddy Corbuzier. Saya jadi makin galau.

Bahasan ini sensitif banget. Jadi draft yang saya udah bikin dari beberapa hari lalu saya rombak total.

Semua kalimat yang terlalu nge-gas, terlalu frontal dan sekiranya bakal bikin masalah, saya hapus tanpa kecuali.

Ngeri euy. Karena ya emang soal sensitif banget kan soal agama?

Malah ya, tadinya mbak Devi, temen blogger tasik saya juga mau nulis ini, tapi kemarin dia bilang saya kalau nggak jadi bahas di blog karena terlalu sensitif. Dan katanya 'nggak bisa kalau itu sampe terjadi sama orang terdekat kita'.

Dan saya jadi kayak yang 'Oh iya juga ya?' 

~Dih, Dita labilπŸ˜”

Tapi saya keukeuh pengen tetep bahas di blog. ya asalkan bahasanya saya atur-aturlah ya? Semoga aja nggak jadi masalah.

Jadi yuk mari saya coba re-write si draftnya biar lebih halus. Dan nggak menyinggung pihak manapun. Semoga tulisan saya lulus pro dan kontra ya?

HAHAHA.

in your dream, Dit.


Ya karena pro-kontra pasti ada. at least nggak bikin terlalu panas deh ya.

Semoga yang bacapun bisa melihat kemana arah tulisan ini sebenarnya.

Oke, bismillah.

Lemme try yah?

First of all, buat saya Rina buka hijab it's okay. Noprob karena ya itu hak asasinya. Mau pakai hijab ataupun nggak, terlepas dari apa ajaran agamanya. IMO, itu kebebasan setiap orang.

Duh, baru paragraf pertama aja udah beberapa kali nahan nafas nih saya. wkwkwk



Sekali lagi saya tegaskan ya, saya tau ini sensitif banget. Dan sayapun seorang muslim yang berhijab, tapi yang saya tulis ini adalah murni opini pribadi saya.

Saya oke-oke aja kalau Rina buka hijabnya, karena memanglah saya nggak kenal secara pribadi sama dia πŸ‘…

Kalau sekedar menyayangkan sih ya sayapun menyayangkan lah ya. Tapi ketika Rina memutuskan buat melepas hijabnya. Saya cuma kayak 'oh mungkin memang sudah keputusannya'

Dan ternyata iya lho. Butuh waktu 6 bulan dulu sampai dia yakin mau buka hijab. Keputusan besar yang dia buat itu nggak dalam semalam. Jadi ya saya menghormati, nggak papa. Bukan membenarkan lho ya, tolong dicatet.

 ***
Sebelum nulis ini saya diperingatin beberapa orang. Ntah itu sahabat, teman, readers, bahkan adek saya sendiri. Mereka mewanti-wanti aja karena katanya bahasan ini nggak cuma 'sekedar buka hijab' tapi banyak netizen yang mulai mengaitkan keputusan Rina membuka hijabnya dengan alasan atheis, agnostik bahkan pindah agama.

Sahabat saya sampe berkali-kali nanya saya,

'yakin lu? siap dihujat? dikatain kafir? disumpahin masuk neraka?

Duh segitunya.

Padahalmah saya bukan berarti mendukung Rina Nose, atau bahkan Rina-Rina yang lain untuk membuka hijabnya. Saya nulis ini bukan berarti saya membenarkan keputusannya.

Bukan berarti saya koar-koar 'BUKA HIJAB BAGUS KOK NGGAK PAPA. AYO KALIAN IKUTIN YA'

not at all.

Saya cuma mau bilang, yuk mari kita hormati keputusan orang lain. Apalagi karena kita nggak kenal sama dia dan kita nggak tahu what happened with her? sampe dia mengambil keputusan sebesar itu. 

Hormati bukan berarti mendukung, bahkan mengkuti. Karena sebenernya itu hal yang jauh berbeda. JAUH. period.

Dan soal isu-isu atheis, agnostik dll itu, saya angkat tangan. Karena ya itu bukan sesuatu yang harus di bahas. 

Dan lagi, nggak semua orang bisa open minded kalau soal agama. 

Buktinya, beberapa bulan yang lalu temen satu komunitas saya ujug-ujug whatsapp saya pagi-pagi. Isi chatnya simple aja. Tapi bikin mata saya melotot dan seketika ngantuk saya ilang.

Padahal isinya cuma 3 kata,

Sist, gue budhist sekarang 



Saya kaget bukan soal dia yang setahu saya dulunya muslim lalu pindah jadi buddha.Tapi karena heran karena saya nggak lihat prosesnya. Cuma dikabarin hasilnya kan? Walaupun sebenernya dalem hati saya nggak kaget-kaget banget karena beberapa tahun belakangan ini dia beberapa kali posting foto ada yang ke-buddha-buddha-an di instagramnya.

Tapi memang ya, kalau denger langsung saya shock juga.
Shock. Tapi yaudahlah. Saya cuma bales biasa aja. lempeng. nggak jugde dia tapi nggak memuji keputusannya juga. flat aja biasa. Karena dia temen saya kan? Saya mikirnya ngapain saya judge, dia bilang ayahnyapun setuju. Yaudah. end up.

Dia sempet heran, katanya kok saya yang menurut dia muslim berhijab yang solatnya mayan rajin walaupun telat-telat, ini dia yang ngomong loh ya. (Mayan euy, mayan katanya😜) kok bisa santai banget nanggepin pengakuannya?

Karena ya buat apa diheboh-hebohin atuhlah. Hidup saya udah riweuh, nggak lagi nambahin keriweuhan hidup sama hal-hal begituan. Biarkanlah.

Lagian soal agama itu urusan mahluk sama Tuhannya. Misal saya punya dosa, orang sekitar mengingatkan ya Alhamdulilah kayak reminder buat saya, tapi kan tetep ya, hasil akhirnya antara saya sama Alloh aja. 

Dasarnya kan memang amal baik buruknya seseorang, yang tanggung jawab nanti di hari pembalasan ya dirinya masing-masing.

Jadi yasudahlah. Sudah ya netizen Indonesia yang baik? Kata Rina juga di cation foto IGnya : kecewalah seperlunya. Ya memang seperlunya saja.

Kecewa. end up.

Jangan terlalu heboh. Jangan dikait-kaitkan dengan apapun. Kalaupun memang Rina memilih keputusan lebih besar dari 'sekedar buka hijab', hormati saja. Hormati ya bukan berarti membenarkan atau mendukung.

Karena jujur, pas ada yang bilang ke saya : 'Saya noprob kalau Rina punya keputusan lain dari 'sekedar buka hijab', tapi nggak bisa bayangin kalau (jangan sampai sih ya) orang terdekat saya yang ngalamin' saya juga malah jadi kefikiran sendiri.

Karena nyatanya ya. Saya bisa se-open-minded ini karena memang saya terbiasa melihat banyak orang yang 'berbeda' dengan saya. Tapi kalau sampai terjadi sama orang terdekat saya, kayaknya sayapun tetep nggak bisa se-open-minded itu.

Orang terdekat disini maksudnya keluarga, calon suami -Ahem-, sahabat yang deket banget. Pokoknya orang-orang yang hidupnya sama saya terus. Kalau temen sih, apalagi yang cuma temen komunitas, temen main, temen hura-hura. Yaudahlah sayapun nggak akan terlalu kefikiran, karena bukan nggak sayang, bakal terlalu kagok aja kalaupun saya keberatan sama keputusannya pindah agama atau malah memilih tidak beragama.



πŸ˜₯πŸ˜₯

Ya intinya, syudahlah mari kita kecewa seperlunya saja. Jangan terlalu men-judge seseorang dengan keputusan besarnya yang mungkin kita fikir nggak biasa dan terlalu uot of the box. Sudahi saja.





 



  
Baca Selengkapnya → Memangnya Kenapa Kalau Rina Nose Buka Hijab?
opini

Fitur Gif Sex di Whatsapp dan Begini Tanggapan Saya

Monday, November 06, 2017



Whatsapp itu udah kayak kantor virtual buat saya. Apapun saya kerjain lewat whatsapp. Pokoknya kalo whatsapp gangguan, ya kerjaan juga mandeg lah ya. Saking pentingnya, saya sampe bela-belain selalu backup data whatsapp tiap minggu. Buat jaga-jaga aja. Kalau ujug-ujug ada yang beliin saya iphone 8 saya nggak pusing soal data kerjaan.

( baca juga : 5 sosmed favorit

Ini saya collab sama sahabat saya ya, baca juga punyanya Eno disini :

Dan sekarang jagat per-whatsapp-an lagi gonjang-ganjing karena adanya fitur sex gif. Banyak orang worried berlebihan nanggepinnya. Sampe ada yang minta di-block segala.

Enak aja main block-block sembarangan. Banyak loh orang-orang yang cari nafkah lewat whatsapp kayak saya ini. gegara gitu doang harus kehilangan lahan buat cari rezeki? NAY dong ya.

( baca juga : Kenapa Ogah Jadi Marketing? )





Nggak lah, saya nggak setuju banget kalau whatsapp sampe di block. Emang iya sih, ada beberapa alternatif lain selain whatsapp, BBM misal, atau IMO yang buatan indonesia. Bisa sih bisa aja, fiturnya toh hampir sama kan? Tapi ya tetep aja, yang lebih familiar ya whatsapp. Klien saya aja pertama nanyain kontak pasti dia tanya dulu, ada whatsapp kan?

Jadi yaudah, sampe ujung benuapun sayamah nggak akan setuju kalau whatsapp mau di block.

***
Ya iya sih, saya nggak nutup mata kalau ternyata banyak orangtua yang worried. Takut anak-anaknya buka konten sex gif tersebut. Karena ya beda sama kita orang dewasa, anak-anak masih cenderung polos dan belum mengerti. 

Tapi mbok ya, orangtuanya dong jangan kalah pinter sama anak. Anak-anak sekarang pinternya emang kelewatan deh Mak. Ponakan saya aja yang baru 3 tahunan udah jagoan banget maen henpon, udah bisa buka youtube sendiri, udah bisa ngeraba-raba kalau dia mau download game di playstore and other.

Lagian ya sebenernya konten seks itu nggak cuma bisa didapet di whatsapp. Tapi mungkin lebih banyaknya di youtube. 

DI whatsappmah cuma gif doang, itupun nggak pas kita buka whatsapp langsung disuguhin agedan syur. Nggak kok. Butuh beberapa step dulu bisa sampe kontennya kebuka.

Kurang lebih caranya kayak gini ya, 



Ya intinya, nggak mejeng langsung lah si konten seksnya. Memang masih mudah buat di akses tapi kan tetep ya ada step-stepnya dulu sampe bisa kebuka.

Dibikin santai dan selow dulu aja deh gengs. Semakin kita panik, share sana-sini, heboh di grup ini-ono, semakin banyak yang tahu dan penasaran, ujung-ujungnya apa? ya makin banyaklah yang ngakses 😩😩 

Saya aja kalau nggak digembor-gemborin gini mana tau kalau di whatsapp ada begituan. Ciyus lho ya ini. Saya tahu konten gif seks itu ya setelah heboh begini. Sebelumnya sih ya woles aja. Blas nggak tahu sama sekali.

Contohnya kaya screenshoot saya yang di atas. Itu saya dapet dari beberapa WA grup. banyak banget yang share, sampe level tiap saya buka whatsapp yang ngirim isinya info kayak gitu. Saya gemes sama netizen Indonesia yang kelewat aktif. Mau apapun isi broadcastnya, kalau booming ya langsung aja di-share. nggak liat pros and consnya dulu. Kayak saya dong, mau resign aja disuruh bikin dulu list pros and consnya πŸ’… Bosque memanglah pengertian ya~~

( baca juga : resign? )

( baca juga : Perhatikan Kesehatan Jiwa Di Tempat Kerja )




Jadi ya, saran saya sih bijak-bijak ajalah. Jangan langsung on heboh kalau ada isu-isu kayak gitu. kaget boleh, tapi cooling down, fikir realistis, pasti selalu ada solusi kok. Apalagi ini soal konten seks di whatsapp doang.

kok doang sih dit?




Ya karena itumah cuma sebagian kecil lah. Adanya konten gif seks di whatsapp nggak lantas bikin anak-anak Indonesia jadi hancur masa depannya atau malah jadi dewasa sebelum waktunya. Nggak lah, selama ada kontrol dari orangtua.

Seperti yang saya bilang tadi, jangan mau kalah pintar sama anak. Anak zaman sekarang udah sedemikian canggihnya, mamak sama papahnya harus lebih canggih. Kontrol penggunaan henpon pada anak. kalau sekiranya anak belum layak pegang henpon karena masih kecil, ya nggak usah dikasih henpon. Saklek aja.



Kalau mau browsing tugas sekolah ya pake aja henpon orangtuanya, kakaknya, mbak ARTnya atau siapa kek. sambil didampingi, sambil di kontrol dan diarahkan.

Karena ya, konten seksmah nggak cuma mudah di akses di whatsapp kok, banyak cara yang lebih mudah buat ngakses situs porno. whatsapp di blokir, konten seks banyak di tempat lain.

Jadi ya nggak guna kalaupun si whatsappnya mau di block.

***

Kalau udah saya jembreng ternyata masih worried juga, yowes setting aja di whatsappnya biar si gif nggak nongol. Bisa kok.

Kalau mau ikutin caranya ya.

https://chirpstory.com/li/374147

https://chirpstory.com/li/374147

Simple kan? Nggak kudu maen bikin petisi buat block whatsapp segala. 


***
Saya bisa selow gini karena buat saya sex education bukanlah hal yang tabu. Pun demikian sama anak-anak kecil. Mereka bukannya harus ditutupin matanya dari hal-hal berbau seks, tapi harus di arahkan. Dikasih tau nggak papa kok, cuma ya sewajarnya aja. misal ini foto orang yang sudah menikah, mereka boleh kok berpelukan, ciuman kalau sudah menikah nanti. Tapi kasih tahu juga kalau mereka yang masih kecil dilarang melakukan hal-hal tersebut karena tidak boleh secara agama atau berikan alasan-alasan yang bisa dimengerti oleh anak.

Asal nggak bohong sih, YAY. 

banyak orangtua yang menabukan sex education buat anak-anaknya. padahal ya, sex education berperan penting ketika anak dengan sendirinya menemukan gambar atau video porno. minimal dia tahu harus bereaksi seperti apa.

Ini bukan saya yang single so-so'an bicara parenting ya. Saya memang belum jadi orangtua, tapi minimal saya mengakui kalau orangtua adalah sekolah pertama anak. Begitupun soal sex education. Lebih baik anak tahu dari orangtua duluan daripada dari video porno. ya kan?



Maka dari itu, yuk mari kita sudahi saja gonjang-ganjing nggak jelas ini. KOMINFO jauh lebih faham kok bagaimana harus bertindak. Jangan terlalu nyalah-nyalahin whatsapp, karena sebenernya gif tersebut yang bikin bukan si-whatsapp sih, tapi dari pihak ketiga. in case kalian belum tahu, yang disebut pihak ketiga itu adalah giphy dan tenor. ( source )

Udah ya? nggak usah heboh-heboh lagi. Masih banyak yang lebih penting soalnya. HAHAHA

BHAYπŸ’…πŸ’…






Baca Selengkapnya → Fitur Gif Sex di Whatsapp dan Begini Tanggapan Saya
confused

Resign?

Sunday, October 29, 2017


Umur 5-12 tahun
Yang bikin saya galau mungkin sekedar soal mainan. Beli jangan ya? Yang mana pros and consnya Cuma seputaran kayak gini :

+ Beli mainan, mama marah karena beli mainan terus sampe uang jajan habis
-  Nggak beli mainan ya ngenes, temen lain punya kok saya nggak punya.

Umur 13-18 tahun
Galau soal pilihan sekolah, jurusan IPA, IPS, Bahasa, galau soal cinta monyet and other. Pros and consnyapun ya gitu-gitu lah. Masih cetek banget. Kayak kalau milih kelas IPS ya nanti pas kuliah nggak bisa ambil jurusan SAINS, kalau sekolah di sekolah A artinya jauh dari rumah, kalau putus sama si B ya cari lagi. HAHAHA. πŸ˜‚πŸ˜‚

Ya gitu lah, udah nggak bisa dibilang cetek tapi masih bisa fleksibel lah. Pros and consnya belum terlalu rumit.

πŸ˜ͺπŸ˜ͺ

Beranjak ke umur lepas sekolah
18+
Galau mau kuliah apa kerja. Kalau kuliah, kuliahnya dimana dan jurusan apa, kalau kerja kerjanya dimana? Pros and consnya udah mulai rumit disini.

Dan sekarang, di umur 24 tahun, kok ya penyebab saya galau makin variatif aja. beranak pinak kayak soal essay zaman sekolah dulu. Sekarang nggak galau lagi soal cowok, walaupun ada lah sedikit, tapi itu cuma kayak selingan aja. Banyaknya saya galau soal hidup.

Jadi bener euy, makin dewasa kita berfikirnya jadi makin dalem. Ibarat laut, usia kayak saya itu mikirnya udah macem palung, dalem banget nget nget. Jadi yang dulu sering banget dibikin galau sama cowok, di fase ini saya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil menggumam dalem hati.

‘Ternyata nggak ada apa-apanya dibanding masalah yang ini. soal cowokmah cetek banget emang,’

Umur makin nambah saya jadi belajar kalau ternyata ada lho masalah yang lebih urgensi dari sekedar patah hati diputusin cowok. Dan pros and consnya juga udah nggak bisa dibilang cetek lagi, Lebih dari rumit malah.

Contohnya apa?

Simple aja, kayak yang saya rasain sekarang. Soal pekerjaan.

Ini galaunya bikin saya sampe demam 39 derajat plus flu yang nyiksa banget. Meler-meler ijo ewww. Saya nggak lebay tapi emang ya gitu adanya. Yang bikin saya galau sebenernya, adalah karena saya sayang sama pekerjaan saya yang sekarang, sayang sama job desknya, sayang sama target-targetnya dan sayapun emang lagi tertarik banget di bidang itu, sayang sama kesempatan-kesempatan saya belajar dan berkembang disana, sayang sama gaji bulanannya. Wanjaaay, tetep ya ujungnya? HAHAHA.






Tapi saya nggak tahan sama toxic environtmentnya, sama toxic coworkernya. Ampunlah, saya angkat tangan.


Kenapa bisa sampe kayak gitu? Ini saya ceritain ya, tapi singkat aja.

Jadi kan saya ini tipikal orang yang doyan banget becanda, saya suka becandain semua temen kantor saya. kecuali satu orang yang bisa dibilang rajanya toxic coworker di kantor saya. Selain karena saya nggak suka pribadinya yang kasar, juga karena emang ada larangan pribadi dari manager buat nggak sering-sering ngajak dia interaksi. Secukupnya ajalah blio bilang.

Mungkin emang udah akumulasi atau gimana, puncaknya saya muntab, marah luar biasa ketika dia becandain saya, agak ngedorong bahu saya yang masih cedera sampe kaki saya yang jalannya belum bener efek celaka di motor jadi sempoyongan. Sakitnya jangan ditanya. SAKIT BANGET.




Baca juga tulisan saya tentang depresi disini

Siangnya saya baru rontgen sama mama ke RS , sorenya kejadian kayak gitu. I don’t know why saya bisa semarah itu, tapi pada saat itu saya memang marah. Sampai banting barang segala ke dia. Saya ngerasa ini udah terlalu berlebihan, lagian dia nggak sekali dua kali lho becanda nggak lucu gitu. Biasanya emang saya cuekin karena nggak main fisik kan? Tapi ini dia udah main fisik, ditambah lagi fisik saya emang masih recovery kan? Jalan masih pincang, bahu masih sakit banget.

Kalau alibinya karena dia cuma becanda, i can say “NGGAK LUCU LO! CEDERA GUE MAKIN PARAH LO TANGGUNG JAWAB MAU NGGAK?"

Jijik banget becanda udah kayak kuli nggak sekolah gitu? Hell!


Iya, sampe saat inipun saya masih marah banget. Karena emang nggak lucu atuh euy. Ngapain orangtuanya kuliahin dia kalau etikanya jongkok begitu. Sama cewek aja kasar, emang dia dilahirin sama timun? Kok nggak ada respectnya sama cewek. Hih amit.

I know, di tiap kantor pasti ada kok toxic coworker, tapi seenggaknya mereka biasanya sekedar jahat di strategi pekerjaan, cari muka depan atasan, menjatuhkan karyawan lain etc. Tapi DIMANA ATUH EUY YANG MAIN KASAR KAYAK KULI PANGGUL PASAR? πŸ’£πŸ’£

bisa dibilang Ini puncak alasan saya kenapa saya waktu itu sampe nangis-nangis ke manager saya buat ngajuin resign. Nggak sangguplah saya, gila aja kerja sama orang kayak gitu. Tapi manager saya nggak langsung mengiyakan atau gimana, dia nyuruh saya ngobrol dulu, berkeluh kesah dulu, blio dengerin saya, ngasih saya pilihan lagi, nyuruh saya tulis pros and consnya kalau saya resign kayak gimana.
 

Dan saya bener-bener bingung saat ini. Saya nggak siap resign karena memang saya belum apply lamaran kemanapun dan karena memang saya masih berat ke kerjaan saya yang sekarang.

Tapi kebaperan saya emang kayaknya ngalahin kewarasan deh. Karena keinginan buat resign masih sekitar 60% an.  

Masalah rezekimah, saya percaya Gusti itu maha pengasih. Bakteri sekecil apa juga kan udah ada rezekinya ya? Apalagi saya yang segede alaihim ini. Masa iya nggak ada rezekinya?

Lagian emang saya belum apply lagi kan? Belum final lah artinya.

Cuma ya sayang aja, saya belum siap nganggur lagi, saya seneng mandi pagi tiap hari, dandan, pergi ke kantor, lari-lari ke mesin finger print sebelum jam 8 tepat, ngobrol sama temen kantor, kerja, bikin time table, strategi, ketemu klien, presentasi dll.

Aaahh, akan ada banyak banget hal-hal yang belum siap saya lepasin. Tapi saya nggak siap juga buat masuk lagi.





***
Nah kalo dijembreng, Kira-kira pros and consnya kayak gini deh.



Jadi gimana? Setelah saya bikin list kayak gitu, mendingan saya lanjutin niat resgn saya apa bertahan aja? atau gimana?


Wanjay galau ngalah-ngalahin pas ditinggal mantan kawin euy πŸ˜™πŸ˜™


Baca Selengkapnya → Resign?

Labels

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Warung Blogger

Warung Blogger

Kumpulan Emak Blogger

img.emoji { height: 1em; width: 1em; margin: 0 .05em 0 .1em; vertical-align: -0.1em; }